senior vs junior dalam sebuah forum

Sekarang jam 10 malam lewat 5 menit, dan saya baru saja selesai solat isya. Ya postingan tulisan saya malam ini menggunakan bahasa asli saya, bahasa Indonesia. Bukan berarti saya mau mengubah rencana saya belajar bahasa inggris melalui tulisan, namun memang sepertinya saya terlalu resah bila memendam ini terlalu dalam, saya ingin menuangkannya secepat mungkin tanpa takut ada kesalahan penulisan menggunakan bahasa inggris yang baik dan benar, maka saya gunakan bahasa indonesia. Cukup pembukaannya, saya sangat sudah ingin sekali menulis banget. Saya hiperbola ya, hehe.

Di sela-sela solat saya, entah solat saya tidak khusyu atau entah apa yang terjadi, saya merasa sekali bahwa diri saya bersalah. Memori ketika ade kelas 2012 secara serempak berkumpul dan meminta panitia makrab (malam keakraban) yakni teman-teman sekelas saya angkatan 2011, termasuk saya didalamnya, untuk menyatakan keluh kesah mereka mengenai kegiatan makrab ini. Dibentuklah forum terbuka antara senior dan junior.

Yang mereka keluhkan rasanya tidak rasional bagi saya, namun di sepanjang pertemuan 2 angkatan itu, saya memilih untuk diam, dengan menyatakan dari awal tidak ingin berkomentar sedikit pun. Namun ketika waktu solat dzuhur telah terlewat dimana pada saat itu perbincangan makin memanas, sedangkan disaat yang sama, seketika ada teman saya yang mengingatkan saya bahwa saya harus menemui dosen PA (pembimbing akademik) saya dengan membawa KRS (kartu rencana studi) untuk rencana perkuliahan semester 3 dan KHS (kartu hasil studi) dari perkuliahan semster 2, yangmana KHS maupun KRS belum di print out untuk di tanda tangani oleh dosen PA, nah, disaat yang sama pula, teman saya selaku ketua panitia makrab, meminta saya untuk berbicara di forum, karena ia menganggap saya sebagai seorang senior yang agak dekat dengan junior, karena saya pernah menjadi salah satu kaka pembimbing mereka di acara ospek jurusan yang tahun ini disebut dengan opak (orientasi pengenalan akademik dan kebangsaan). Namun karena saya agak kurang mendengarkan isi dari pembicaraan di forum (walau saya mengikuti diskusi di forum dari awal) saya tetap tidak dapat membantu teman saya selaku ketua panitia makrab untuk menjawab pertanyaan adik-adik kelas angkatan 2012.

Saya sangat kecewa dengan diri saya sendiri, kenapa saya agak tidak mendengarkan baik-baik isi forum, malah saya memusingkan tentang bagaimana caranya saya keluar dari forum ini dan mem-print out KRS dan KHS saya. Segera solat karena solat adalah ibadah bagi saya dan hal itu penting, dan saya segera menemui dosen PA saya.

Saya tadi mengatakan bahwa saya agak tidak mendengarkan isi forum dengan baik, nah, ini bukan berarti saya tidak mendengarkan forum sama sekali, dan Anda dapat beranggapan bahwa raga saya di forum namun pikiran saya melayang kemana-mana. Yaa yaa yaa, jujur memang hal tersebut sempat terjadi pada saya saat itu, dan karena hal itu saya tidak siap untuk menjawab pertanyaan, namun hal yang paling tidak siap saya menjawabnya adalah karena pertanyaan yang saya jawab itu jujur “saya tidak tahu harus bagaimana jawabannya”.

Mereka (angkatan 2012) mengatakan bahwa mereka mempermasalahkan tentang keuangan mereka yang semakin menipis, hampir untuk opak saja, uang mereka habis 1 juta, belum pula untuk makrab, belum pula untuk beli buku-buku kuliah nantinya. Mereka merasa berat untuk membayar biaya makrab.
Kami (angkatan 2011) merasa bahwa mereka senasib seperti kami saat kami masih dalam keadaan seperti mereka, yakni saat akan melalui makrab, yangmana rentang waktunya hanya 2 minggu setelah opak berakhir.
Kami berusaha semaksimal mungkin untuk dapat menyanggupi persyaratan panitia makrab saat itu, saat kami masih sebagai junior, panitianya adalah senior kami yakni angkatan 2010.
Walau untuk menutupi kekurangan dana, kami harus saling meminjam satu sama lain. Untuk kepeerluan atribut makrab pun kami rela meminjam satu sama lain, bahkan meminjam ke prodi (program studi) lain, yaa karena kebetulan kami saat itu diwajibkan tinggal di asrama, bersama dengan 3 prodi yang lain.
Dan kami merasakan bahwa kegiatan makrab malah bukan hanya untuk mengakrabkan senior dengan junior, bahkan untuk mengakrabkan prodi kami dengan prodi lain dalam fakultas yang sama.
Kami sangat merasakan bahwa hal seperti ini menyenangkan dan bermanfaat, lagipula mengikuti acara makrab ini bukannya tanpa tujuan. Ada tujuan akhir dari acara makrab ini, yaitu selain untuk mengakrabkan senior dan junior seperti yang telah saya katakan sebelumnya, juga untuk mendapatkan sertifikat yangmana sertifikat ini akan digunakan untuk keperluan skripsi saat sudah semester 8 nanti. Yang artinya, tanpa mengikuti makrab ini, kami tidak dapat mencukupi beban sertifikat yang diwajibkan sebagai syarat skripsi untuk kelulusan dan untuk bisa wisuda.
Tidak ada artinya waktu 3 hari 2 malam hanya sekedar untuk makrab, dibandingkan dengan kurangnya sebuah sertifikat yang menyebabkan kurangnya syarat skripsi yang ujung-ujungnya malah tidak bisa lulus, tidak bisa wisuda. Memang terlalu jauh yang saya bicarakan, tapi ini faktanya. Untuk apa pula saya berbohong menyatakan hal seperti ini.

Kembali pada mereka (angkatan 2012). Yang saya tidak habis pikir, mereka mengatakan bahwa mereka untuk makan pun sudah mulai meminjam dana dari temannya yang lain, dan untuk sekedar mengeluarkan uang 30 ribu rupiah saja, mereka harus berpikir panjang lebar.
Hal tersebut sangat amat tidak rasional banget bagi saya. Logikanya bagini saja, bila Anda 30 ribu saja tidak ada, dan makan sudah meminjam dana dari teman, apakah hal tersebut akan terus terjadi pada Anda ? Ini awal bulan loh, saat forum terjadi itu tanggal 6, dan satu bulan ada 30 hari, jadi selama sisa hari dalam bulan ini, apakah orang tua Anda tidak akan memikirkan Anda, apakah Anda tidak bisa berbuat sesuatu untuk menunjang hidup Anda ? Namun yang lebih parah lagi, adalah kenyataan bahwa “Anda berkuliah di fakultas kedokteran dan ilmu kesehaatan di salah satu universitas negeri di Indonesia, mana mungkin seorang mahasiswa kesehatan pendanaannya minim ?”
Okelah bila Anda berpikiran bahwa saya agak sombong, namun ini kenyataan. Saya tidak melihat sedikit pun ada wajah kesulitan dari junior saya angkatan 2012, apalagi masalah keuangan, tidak terlihat sama sekali. Terlihat jelas dari gaya mereka saat ke kampus, cara berpakaiannya, cara menata jilbabnya, cara memakai riasan di wajahnya. Semuanya dari mereka.
Dengan adanya forum dadakan seperti ini malah membuat saya berasumsi bahwa junior-junior semuanya manja, lemah, dan kalah sebelum berperang. Terlihat sekali bahwa semangat juang mereka tidak tampak sama sekali. Tidak ada wajah semangat bekerja keras terapapar dari mereka, padahal makrab ini pun untuk melatih agar saat di perkuliahan mereka sebagai mahasiswa baru memiliki semangat juang yang tinggi agar dapat terus bertahan di kampus peradaban ini dengan prestasi yang membanggakan.

Banyak sekali yang dikeluhkan, banyak sekali yang di perdebatkan, dan di permasalahkan, yang semuanya tidak seharusnya demikian.

Posted from WordPress for BlackBerry.

Published in: on September 7, 2012 at 4:15 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

The URI to TrackBack this entry is: https://jessitaputridhiary.wordpress.com/2012/09/07/senior-vs-junior-dalam-sebuah-forum/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: