Makalah Etika Kominikasi dalam Islam dan Teknik Komunikasi dalam Setiap Level Usia

TUGAS KOMUNIKASI DALAM KEPERAWATAN

ETIKA KOMUNIKASI DALAM ISLAM DAN TEKNIK KOMUNIKASI

DALAM SETIAP LEVEL USIA

DISUSUN OLEH : JESSITA PUTRI DHIARY

NIM : 1111104000019

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

2012

 

 

A. ETIKA KOMUNIKASI DALAM ISLAM

 

Komunikasi Islam adalah proses penyampaian pesan-pesan keislaman dengan menggunakan prinsip-prinsip komunikasi dalam Islam. Dengan pengertian demikian, maka komunikasi Islam menekankan pada unsur pesan (message), yakni risalah atau nilai-nilai Islam, dan cara (how), dalam hal ini tentang gaya bicara dan penggunaan bahasa (retorika). Pesan-pesan keislaman yang disampaikan dalam komunikasi Islam meliputi seluruh ajaran Islam, meliputi akidah (iman), syariah (Islam), dan akhlak (ihsan).
Mengenai cara (kaifiyah), dalam Al-Quran dan Al-Hadits ditemukan berbagai panduan agar komunikasi berjalan dengan baik dan efektif. Kita dapat mengistilahkannya sebagai kaidah, prinsip, atau etika berkomunikasi dalam perspektif Islam.
Kaidah, prinsip, atau etika komunikasi Islam ini merupakan panduan bagi kaum Muslim dalam melakukan komunikasi, baik dalam komunikasi intrapersonal, interpersonal dalam pergaulan sehari hari, berdakwah secara lisan dan tulisan, maupun dalam aktivitas lain.
Dalam berbagai literatur tentang komunikasi Islam kita dapat menemukan setidaknya enam jenis gaya bicara atau pembicaraan (qaulan) yang dikategorikan sebagai kaidah, prinsip, atau etika komunikasi Islam, yakni (1) Qaulan Sadida, (2) Qaulan Baligha, (3) Qulan Ma’rufa, (4) Qaulan Karima, (5) Qaulan Layinan, dan (6) Qaulan Maysura.

 

1. QAULAN SADIDA

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan Qaulan Sadida –perkataan yang benar (QS. 4:9)
Qaulan Sadidan berarti pembicaran, ucapan, atau perkataan yang benar, baik dari segi substansi (materi, isi, pesan) maupun redaksi (tata bahasa).
Dari segi substansi, komunikasi Islam harus menginformasikan atau menyampaikan kebenaran, faktual, hal yang benar saja, jujur, tidak berbohong, juga tidak merekayasa atau memanipulasi fakta.

“Dan jauhilah perkataan-perkataan dusta” (QS. Al-Hajj:30).
“Hendaklah kamu berpegang pada kebenaran (shidqi) karena sesungguhnya kebenaran itu memimpin kepada kebaikan dan kebaikan itu membawa ke surga” (HR. Muttafaq ‘Alaih).

“Katakanlah kebenaran walaupun pahit rasanya” (HR Ibnu Hibban).
Dari segi redaksi, komunikasi Islam harus menggunakan kata-kata yang baik dan benar, baku, sesuai kadiah bahasa yang berlaku.
“Dan berkatalah kamu kepada semua manusia dengan cara yang baik” (QS. Al-Baqarah:83).

“Sesungguhnya segala persoalan itu berjalan menurut ketentuan” (H.R. Ibnu Asakir dari Abdullah bin Basri).

Dalam bahasa Indonesia, maka komunikasi hendaknya menaati kaidah tata bahasa dan mengguakan kata-kata baku yang sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).
2. QAULAN BALIGHA

“Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka Qaulan Baligha – perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. (QS An-Nissa :63).

Kata baligh berarti tepat, lugas, fasih, dan jelas maknanya. Qaulan Baligha artinya menggunakan kata-kata yang efektif, tepat sasaran, komunikatif, mudah dimengerti, langsung ke pokok masalah (straight to the point), dan tidak berbelit-belit atau bertele-tele.
Agar komunikasi tepat sasaran, gaya bicara dan pesan yang disampaikan hendaklah disesuaikan dengan kadar intelektualitas komunikan dan menggunakan bahasa yang dimengerti oleh mereka.

“Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kadar akal (intelektualitas) mereka” (H.R. Muslim).

”Tidak kami utus seorang rasul kecuali ia harus menjelaskan dengann bahasa kaumnya”(QS.Ibrahim:4)

Gaya bicara dan pilihan kata dalam berkomunikasi dengan orang awam tentu harus dibedakan dengan saat berkomunikasi dengan kalangan cendekiawan. Berbicara di depan anak TK tentu harus tidak sama dengan saat berbicara di depan mahasiswa. Dalam konteks akademis, kita dituntut menggunakan bahasa akademis. Saat berkomunikasi di media massa, gunakanlah bahasa jurnalistik sebagai bahasa komunikasi massa (language of mass communication).

3. QAULAN MA’RUFA

Kata Qaulan Ma`rufan disebutkan Allah dalam QS An-Nissa :5 dan 8, QS. Al-Baqarah:235 dan 263, serta Al-Ahzab: 32.
Qaulan Ma’rufa artinya perkataan yang baik, ungkapan yang pantas, santun, menggunakan sindiran (tidak kasar), dan tidak menyakitkan atau menyinggung perasaan. Qaulan Ma’rufa juga bermakna pembicaraan yang bermanfaat dan menimbulkan kebaikan (maslahat).
“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya[268], harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka Qaulan Ma’rufa – kata-kata yang baik. (QS An-Nissa :5)
“Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat, anak yatim dan orang miskin, Maka berilah mereka dari harta itu (sekadarnya) dan ucapkanlah kepada mereka Qaulan Ma’rufa- perkataan yang baik(QS An-Nissa :8).
“Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu Menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu Mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekadar mengucapkan (kepada mereka) Qaulan Ma’rufa – perkataan yang baik… (QS. Al-Baqarah:235).
“Qulan Ma’rufa – perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.”(QS. Al-Baqarah: 263).
“Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah Qaulan Ma’rufa – perkataan yang baik.” (QS. Al-Ahzab: 32).

4. QAULAN KARIMA

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada kedua orangtuamu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, seklai kali janganlah kamu mengatakan kepada kedanya perkatan ‘ah’ dan kamu janganlah membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Qaulan Karima – ucapan yang mulia (QS. Al-Isra: 23).

Qaulan Karima adalah perkataan yang mulia, dibarengi dengan rasa hormat dan mengagungkan, enak didengar, lemah-lembut, dan bertatakrama. Dalam ayat tersebut perkataan yang mulia wajib dilakukan saat berbicara dengan kedua orangtua. Kita dilarang membentak mereka atau mengucapkan kata-kata yang sekiranya menyakiti hati mereka.
Qaulan Karima harus digunakan khususnya saat berkomunikasi dengan kedua orangtua atau orang yang harus kita hormati.
Dalam konteks jurnalistik dan penyiaran, Qaulan Karima bermakna mengunakan kata-kata yang santun, tidak kasar, tidak vulgar, dan menghindari “bad taste”, seperti jijik, muak, ngeri, dan sadis.

5. QAULAN LAYINA

“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan Qulan Layina – kata-kata yang lemah-lembut… (QS. Thaha: 44).
Qaulan Layina berarti pembicaraan yang lemah-lembut, dengan suara yang enak didengar, dan penuh keramahan, sehingga dapat menyentuh hati. Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan, yang dimaksud layina ialah kata kata sindiran, bukan dengan kata kata terus terang atau lugas, apalagi kasar.

Ayat di atas adalah perintah Allah SWT kepada Nabi Musa dan Harun agar berbicara lemah-lembut, tidak kasar, kepada Fir’aun. Dengan Qaulan Layina, hati komunikan (orang yang diajak berkomunikasi) akan merasa tersentuh dan jiwanya tergerak untuk menerima pesan komunikasi kita.

Dengan demikian, dalam komunikasi Islam, semaksimal mungkin dihindari kata-kata kasar dan suara (intonasi) yang bernada keras dan tinggi.
6. QAULAN MAYSURA

”Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhannya yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka Qaulan Maysura – ucapan yang mudah (QS. Al-Isra: 28).

Qaulan Maysura bermakna ucapan yang mudah, yakni mudah dicerna, mudah dimengerti, dan dipahami oleh komunikan. Makna lainnya adalah kata-kata yang menyenangkan atau berisi hal-hal yang menggembirakan.

 

 

 

B. TEKNIK KOMUNIKASI DALAM SETIAP LEVEL USIA

 

1. Komunikasi Dengan Bayi Usia 0 – 1 tahun.

Komunikasi dengan bayi yang umumnya dapat dilakukan adalah dengan melalui gerakan – gerakan bayi. Gerakan tersebut akan sebagai alat komunikasi yang efektif, disamping  itu komunikasi dengan bayi dapat dilakukan secara non verbal. Perkembangan komunikasi pada bayi dapat dimulai dengan kemampuan bayi untuk melihat sesuatu yang menarik, ketika bayi digerakan maka bayi akan berespon untuk membuat suara – suara yang dikeluarkan oleh bayi. Perkembangan komunikasi pada bayi tersebut dapat dimulai pada usia minggu kedelapan dimana bayi sudah mampu melihat obyek atau cahaya, kemudian pada minggu ke dua belas bayi sudah mulai melakukan tersenyum. Pada usia minggu ke enam belas bayi sudah mulai menolehkan kepala pada suara yang asing bagi dirinya. Pada pertengahan tahun pertama bayi sudah mulai mengucapkan kata – kata awal seperti ba-ba, da-da,dst. Pada bulan kesepuluh bayi sudah bereaksi terhadap panggilan terhadap namanya, mampu melihat beberapa gambar yang terdapat dalam buku, pada akhir tahun pertama sudah mampu melakukan kata – kata yang spesifik antara dua atau tiga kata. Komunikasi non verbal dapat dilakukan dengan sentuhan, mengusap, memangku, melambaikan tangan, menggendong dll.

2. komunikasi dengan Usia Todler dan Pra sekolah (1-2,5 tahun, 2,5 – 5 tahun).

Perkembangan komunikasa pada usia ini dapat ditunjukan dengan perkembangan bahasa anak dengan kemampuan anak sudah mampu memahami kurang lebih 10 kata, pada tahun ke -2  200- 300 kata, dan masih diulang – ulang. Pada usia 3 tahun anak sudah mampu menguasai 900 kata dan banyak kata – kata yang digunakan adalah mengapa, apa, kapan, dst. Komunikasi pada usia ini sifatnya egosentris, rasa ingin tahu yang tinngi, inisiatifnya tinggi, kemampuan dalam bahasa meningkat, mudah merasa kecewa dan rasa bersalah karena tuntutan tinggi, setiap komunikasi harus berpusat pada dirinya, takut terhadap ketidakmampuan dan perlu diingat bahwa dalam usia ini anak belum fasih berbicara. Pada usia ini cara berkomunikasi yang dapat dlakukan adalah dengan memberi tahu apa yang terjadi dengan dirinya, memberi kesempatan pada mereka untuk menyentuh alat yang ditanyakan  (yang penting aman) menggunakan nada bicara lambat dan jelas, jika tidak dijawab harus diulang lebih jelas dengan pengarahan yang sederhana.
Hindarkan sikap mendesak untuk dijawab seperti kata – kata “jawab dong!!!!” mengalihakan aktifitas saat berkomunikasi, memberikan mainan saat berkomunikasi dengan maksud anak mudah berkomunikasi , mengatur jarak, menghindari konfrontasi secara langsung, duduk terlalu dekat dan berhadapan. Untuk non verbalnya, menggambar, jangan menyentuh tanpa persetujuan anak, salaman untuk mengurangi rasa cemas.

 

3. Usia Sekolah (5- 11 tahun).

Perkembangan komunikasi pada anak usia ini dapat dimulai dengan kemampuan anak mencetak, menggambar, membuat huruf /tulisan yang besar dan apa yang dilaksanakan oleh anak mencerminkan pikiran anak dan kemampuan anak membaca disini sudah dapat sudah dapat mulai, pada usia ke delapan anak sudah mampu membaca dan sudah mulai berpikir terhadap kehidupan.
komunikasi yang dapat dilakukan pada usia ini adalah tetap masih memperhatikan tingkat kemampuan bahasa anak yaitu gunakan bahasa yang yang sederhana yang spesifik, jelaskan sesuatu yang membuat ketidakjelasan pada anak atau sesuatu yang tidak diketahui, pada usia ini keingintahuan pada aspek fungsional dan prosedural dari obyek tertentu sangat tinggi maka jelaskan arti fungsi dan prosedur tersebut. Maksud dan tujuan dari dari dari suatu yang ditanyakan secara jelas dan jangan menyakiti atau mengancam sebab ini akan membuat anak tidak mampu berkomunikasi dengan efektif.

 

4. Usia Remaja (11 – 18 tahun)

Perkembangan komunikasi pada usia remaja ini ditunjukan dengan kemampuan berdiskusi atau berdebat dan sudah mulai berpkir secara konseptual, sudah mulai menunjukan perasaan malu, pada anak usia ini sering kali merenung kehidupan tentang masa depan yang direfleksikan dalam komunikasi. Pada usia ini pola pikir sudah mulai menunjukan ke arah yang lebih positif, terjadi konseptualisasi mengingat ini adalah masa peralihan anak menjadi dewasa. Komunikasi yang dapat dilakukan pada usia ini adalah berdiskusi atau curah pendapat (CURHAT) pada teman sebaya, hindari beberapa pertanyaan yang dapat menimbulkan rasa malu dan jaga kerahasiaan dalam berkomunikasi mengingat awal terwujudnya kepercayaan anak dan merupakan masa transisi dalam bersikap dewasa.

 

Cara Komunikasi Dengan Anak Secara Umum

1. Melalui orang ketiga : tidak langsung bertanya pada anak.

2.Bercerita : pergunakan bahasa yang mudah dimengerti,perlihatkan gambar

3.Bilioterapi: melalui pemberian buku/majalah anak mengekpresikan perasaan dan aktivitas sesuai

cerita dalam buku.

4. Meminta untuk menyebutkan keinginan : mengetahui apa keinginan / keluhan anak.

5. Pro / kontra :mengetahui perasaan anak dan pikiran anak (mengajukan pertanyaaan hal positif

dan negatif ).

6.Menulis : bila anak tidak dapat mengungkapkan perasaan secara verbal.

7. Menggambar : anak akan mengungkapkannya apabila gambar yang ditulisnya ditanya tentang

maksudnya.

8. Bermain : sangat efektif dalam membantu berkomunikasi, dapat menjalin hubungan

interpersonal dengan teman dan perawat.

 

Cara komunikasi Dengan Orang tua Anak

  1. Anjurkan orang tua untuk berbicara
  2. Arahkan ke fokus
  3. Mendengarkan
  4. Diam
  5. Empati
  6. Menyakinkan kembali
  7. Merumuskan kembali
  8. Memberi petunjuk kemungkinan apa yg terjadi
  9. Menghindari hambatan dalam komunikasi.

 

5. Teknik Komunikasi pada Lansia

Beberapa teknik komunikasi yang dapat diterapkan antara lain :

1.    Tenik asertif

Asertif adalah sikap yang dapat di terima, memahami pasangan bicara dengan menunjukan sikap peduli, sabar untuk mendengarkan dan memperhatikan ketika pasangan bicara agar maksud komunikasi atau pembicara  dapat di mengerti.

2.    Responsif

Reaksi petugas kesehatan terhadap fenomena yang terjadi pada klien merupakan bentuk perhatian petugas kepada klien.

3.    Fokus

Sikap ini merupakan upaya perawat untuk tetap berkonsisten terhadap materi komunikasi yang diingkan. Upaya ini perlu di perhatikan karena umumnya lansia senang menceritakan hal – hal yang mungkin tidak relavan untuk kepentingan petugas kesehatan.

4.    Suportif

Perubahan yang terjadi pada lansia, baik pada aspek fisik maupun psikis secara bertahap menyebabkan  emosi klien relatif menjadi labil. Selama memberi dukungan materiil maupun moril, petugas kesehatan jangan sampai terkesan menggurui atau mengajari klien karena ini dapat merendahkan kepercayaan klien kepada perawat atau petugas kesehatan lainnya.

5.    Klarifikasi

Dengan berbagai perubahan yang terjadi pada lansia, sering proses komunikasi tidak berlangsung dengan lancar. Klarifikasi dengan cara mengajukan pertanyaan ulang dan memberikan penjelasan dari satu kali perlu di lakukan oleh perawat agar maksud pembicaraan kita dapat diterima dan di presepsikan sama oleh klien.

6.    Sabar dan Ikhlas

Seperti yang di ketahui baahwa klien lansia terkadang mengalami perubahan yang merepotkan dan kekanak – kanakan. Perubahan ini bila tidak di sikapi dengan sabar dan ikhlas dapat menimbulkan perasaan jengkel bagi perawat sehingga komunikasi yang di lakukan tidak terapeutik, solutif, namun dapat berakibat berkomunikasi berlangsung emosional dan menimbulkan kerusakan antara klien dengan petugas kesehatan.

 

 

 

C. KESIMPULAN

 

a. Etika Komunikasi dalam Islam

1. Qaulan Sadidan berarti pembicaran, ucapan, atau perkataan yang benar, baik dari segi substansi (materi, isi, pesan) maupun redaksi (tata bahasa).

2. Qaulan Baligha artinya menggunakan kata-kata yang efektif, tepat sasaran, komunikatif, mudah dimengerti, langsung ke pokok masalah (straight to the point), dan tidak berbelit-belit atau bertele-tele.
3. Qaulan Ma’rufa artinya perkataan yang baik, ungkapan yang pantas, santun, menggunakan sindiran (tidak kasar), dan tidak menyakitkan atau menyinggung perasaan.

4. Qaulan Karima adalah perkataan yang mulia, dibarengi dengan rasa hormat dan mengagungkan, enak didengar, lemah-lembut, dan bertatakrama.

5. Qaulan Layina berarti pembicaraan yang lemah-lembut, dengan suara yang enak didengar, dan penuh keramahan, sehingga dapat menyentuh hati.

6. Qaulan Maysura bermakna ucapan yang mudah, yakni mudah dicerna, mudah dimengerti, dan dipahami oleh komunikan.

 

 

b. Teknik Komunikasi dalam Setiap Level Usia

  1. Bayi : mengungkapkan kebutuhan dan bersuara yang dapat diinterpretasikan oleh orang sekitarnya, contoh : menangis.
  2. Toddler dan Pra sekolah

– Memberitahu apa yang terjadi pada dirinya.

– Memberi kesempatan pada mereka untuk menyentuh alat pemeriksa yang akan digunakan.

–  Bicara lambat

–  Hindari sikap mendesak untuk dijawab, contoh : jawab dong.

–  Hindari konfrontasi langsung

–  Salaman pada anak ( kurangi rasa cemas)

–  Bergambar atau bercerita.

  1. Usia sekolah

–  Gunakan kata sederhana yang spesifik

–  Jelaskan sesuatu yang membuat ketidakjelasan pada anak

–  Jelaskan arti fungsi  dan prosedur tindakan

–  Jangan menyakiti atau mengancam

 

4.   Usia remaja

–  Berdiskusi atau curah pendapat sama teman sebaya.

–  Hindari beberapa pertanyaan yang dapat menimbulkan rasa malu.

–   jaga kerahasiaan dalam komunikasi ( masa transisi dlm bersikap dewasa ).

 

  1. Teknik Komunikasi Pada Lansia

–  Teknik asertif

–  Teknik responsif

–  Fokus

–  Suportif

–  Klarifikasi

–  Sabar dan Ikhlas

 

 

 

Sumber :

http://adamfernandinho.blogspot.com/2011/11/normal-0-false-false-false-in-x-none-x.html

 

http://pencenk-estry.blogspot.com/2011/11/cara-berkomunikasi-dengan-anak.html

Alimulhidayat, aziz. Pengantar ilmu keperawatan anak. Hal 74-75.

 

http://www.scribd.com/ayenis/d/40290005-Komunikasi-Terapeutik-Pada-Anak-Dan-Keluarga

Published in: on Maret 21, 2012 at 1:25 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

The URI to TrackBack this entry is: https://jessitaputridhiary.wordpress.com/2012/03/21/makalah-etika-kominikasi-dalam-islam-dan-teknik-komunikasi-dalam-setiap-level-usia/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: