Mawaris / Faraidh (Bab 9 Agama)

AL-FARAIDH (WARISAN)

PENGERTIAN FARAIDH

Faraidh adalah bentuk jama’ dari kata fariidhah. Kata fariidhah terambil dari kata fardh yang berarti taqdir, ketentuan. Allah swt berfirman:“(Maka bayarlah) separuh dari mahar yang telah kamu tentukan itu.” (QS al-Baqarah: 237).Sedang menurut istilah syara’ kata fardh ialah bagian yang telah ditentukan untuk ahli waris.

QS. Al-Baqarah : 237
wa-in thallaqtumuuhunna min qabli an tamassuuhunna waqad faradhtum lahunna fariidhatan fanishfu maa faradhtum illaa an ya’fuuna aw ya’fuwa alladzii biyadihi ‘uqdatu alnnikaahi wa-an ta’fuu aqrabu lilttaqwaa walaa tansawuu alfadhla baynakum inna allaaha bimaa ta’maluuna bashiirun

237. Jika kamu menceraikan isteri-isterimu sebelum kamu bercampur dengan mereka, padahal sesungguhnya kamu sudah menentukan maharnya, maka bayarlah seperdua dari mahar yang telah kamu tentukan itu, kecuali jika isteri-isterimu itu mema’afkan atau dima’afkan oleh orang yang memegang ikatan nikah [151], dan pema’afan kamu itu lebih dekat kepada takwa. Dan janganlah kamu melupakan keutamaan di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Melihat segala apa yang kamu kerjakan.

PERINGATAN KERAS AGAR TIDAK MELAMPAUI BATAS DALAM MASALAH WARISAN

Sungguh bangsa Arab pada masa Jahiliyah, sebelum Islam datang memberi hak warisan kepada kaum laki-laki, dan tidak diberikan kepada perempuan, dan kepada orang-orang dewasa, dan tidak diberikan anak-anak kecil.
Tatkala Islam datang, Allah Ta’ala memberi setiap yang punya hak akan haknya. Hak-hak ini disebut “Wasiat dari Allah” (QS an-Nisaa’: 12). dan disebut pula “Faridhah, ketetapan dari Allah” (QS an-Nisaa’: 11). Kemudian dua ayat tersebut dilanjutkan dengan masalah peringatan keras dan ancaman serius bagi orang-orang yang menyimpang dari syari’at Allah, khususnya dalam hal warisan. Allah swt berfirman:

QS. An-Nisa 11

yuushiikumu allaahu fii awlaadikum lildzdzakari mitslu hazhzhi aluntsayayni fa-in kunna nisaa-an fawqa itsnatayni falahunna tsulutsaa maa taraka wa-in kaanat waahidatan falahaa alnnishfu wali-abawayhi likulli waahidin minhumaa alssudusu mimmaa taraka in kaana lahu waladun fa-in lam yakun lahu waladun wawaritsahu abawaahu fali-ummihi altstsulutsu fa-in kaana lahu ikhwatun fali-ummihi alssudusu min ba’di washiyyatin yuushii bihaa aw daynin aabaaukum wa-abnaaukum laa tadruuna ayyuhum aqrabu lakum naf’an fariidhatan mina allaahi inna allaaha kaana ‘aliiman hakiimaan

11. Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan [272]; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua [273], maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo harta. Dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfa’atnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

QS. An-Nisa 12

walakum nishfu maa taraka azwaajukum in lam yakun lahunna waladun fa-in kaana lahunna waladun falakumu alrrubu’u mimmaa tarakna min ba’di washiyyatin yuushiina bihaa aw daynin walahunna alrrubu’u mimmaa taraktum in lam yakun lakum waladun fa-in kaana lakum waladun falahunna altstsumunu mimmaa taraktum min ba’di washiyyatin tuushuuna bihaa aw daynin wa-in kaana rajulun yuuratsu kalaalatan awi imra-atun walahu akhun aw ukhtun falikulli waahidin minhumaa alssudusu fa-in kaanuu aktsara min dzaalika fahum syurakaau fii altstsulutsi min ba’di washiyyatin yuushaa bihaa aw daynin ghayra mudaarrin washiyyatan mina allaahi waallaahu ‘aliimun haliimun

12. Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika isteri-isterimu itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) seduah dibayar hutangnya. Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak, maka para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang-hutangmu. Jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada ahli waris) [274]. (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syari’at yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun.

QS. An-Nisa 13

tilka huduudu allaahi waman yuthi’i allaaha warasuulahu yudkhilhu jannaatin tajrii min tahtihaa al-anhaaru khaalidiina fiihaa wadzaalika alfawzu al’azhiimu

“(Hukum-hukum tersebut) adalah ketentuan-ketentuan dari Allah, barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam syurga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar.

QS. An-Nisa : 14

waman ya’shi allaaha warasuulahu wayata’adda huduudahu yudkhilhu naaran khaalidan fiihaa walahu ‘adzaabun muhiinun

14. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.

 

HARTA MAYYIT YANG SAH MENJADI WARISAN

Manakala seseorang meninggal dunia, maka yang mula-mula harus diurus dari harta peninggalannya adalah biaya persiapan jenazah dan penguburannya kemudian pelunasan hutangnya, lalu penyempurnaan wasiatnya, lantas kalau masih tersisa harta peninggalannya dibagi-bagikan kepada seluruh ahli warisnya. Allah swt berfirman:
“Sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat (dan) sesudah dibayar hutangnya.” (QS an-Nisaa’: 11).

Dan pernyataan Ali ra:
“Rasulullah saw pernah memutuskan pelunasan hutang sebelum melaksanakan (isi) wasiat.” (Hasan: Shahih Ibnu Majah no: 2195, Irwa-ul Ghalil no: 1667, Ibnu Majah II: 906 no: 2715 dan Tirmidzi III: 294 no: 2205).

FAKTOR-FAKTOR YANG MENYEBABKAN MENDAPAT WARISAN

Faktor-faktor yang menyebabkan seseorang mendapatkan warisan ada tiga:

1. Nasab
Allah swt berfirman:
“Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah, satu sama lain lebih berhak (waris-mewaris).” (QS al-Ahzaab: 6)

QS. Al-Ahzab : 6

alnnabiyyu awlaa bialmu/miniina min anfusihim wa-azwaajuhu ummahaatuhum wauluu al-arhaami ba’dhuhum awlaa biba’dhin fii kitaabi allaahi mina almu/miniina waalmuhaajiriina illaa an taf’aluu ilaa awliyaa-ikum ma’ruufan kaana dzaalika fii alkitaabi masthuuraan

6. Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri [1201] dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka. Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmim dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu berbuat baik [1202] kepada saudara-saudaramu (seagama). Adalah yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Allah).

2. Wala’ (Loyalitas budak yang telah dimerdekakan kepada orang yang memerdekakannya):

Dari Ibnu Umar dari Nabi saw, ia bersabda, “al-Walaa’ itu adalah kekerabatan seperti kekerabatan senasab.” (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no: 7157, Mustadrak Hakim IV: 341, Baihaqi X: 292).

3. Nikah
Allah swt menegaskan:
“Dan bagimu (suamiisteri) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu.” (QS an-Nisaa’: 12)

SEBAB-SEBAB YANG MENGHALANGI MENDAPAT WARISAN

1. Pembunuhan

Dari Abu Hurairah ra dari Rasulullah saw bahwa Beliau bersabda, “Orang yang membunuh tidak boleh menjadi ahli waris.” (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no: 4436, Irwa-ul Ghalil no: 1672, Tirmidzi II: 288 no: 2192 dan Ibnu Majah II: 883 no: 2645).

2. Berlainan agama

Dari Usamah bin Zaid ra bahwa Nabi saw bersabda, “Orang muslim tidak boleh menjadi ahli waris orang kafir dan tidak (pula) orang kafir menjadi ahli waris seorang muslim.” (Muttafaqun ’alaih: Fathul Bari XII: 50 no: 6764, Muslim III: 1233 no: 1614, Tirmidzi III: 286 no: 2189, Ibnu Majah II: 911 no: 2729, ‘Aunul Ma’bud VIII: 120 no: 2892).

3. Perhambaan

Sebab seorang hamba dan harta bendanya adalah menjadi hak milik tuannya, sehingga kalau ada kerabatnya memberi warisan, maka ia menjadi milik tuannya juga, bukan menjadi miliknya.

PARA AHLI WARIS DARI PIHAK LELAKI

Yang berhak menjadi ahli waris dari kalangan lelaki ada sepuluh orang:

1 dan 2. Anak laki-laki dan puteranya dan seterusnya ke bawah.

Allah swt berfirman:

“Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan.” (QS An Nisaa’: 11).

3 dan 4. Ayah dan bapaknya dan seterusnya ke atas.

Allah swt berfirman:

“Dan untuk dua orang ibu bapak, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan.” (QS An Nisaa’: 11).

Dan datuk termasuk ayah, oleh karena itu Nabi saw bersabda:

“Saya adalah anak Abdul Muthallib.” (Muttafaqun ’alaih: Fathul Bari VIII: 27 no: 4315, Muslim III: 1400 no: 1776, dan Tirmidzi III: 117 no: 1778).

5 dan 6. Saudara dan puteranya dan seterusnya ke bawah.

Allah swt berfirman:

“Dan saudara yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak.” (QS An Nisaa’: 176).

QS. An-Nisa : 176

yastaftuunaka quli allaahu yuftiikum fii alkalaalati ini imruun halaka laysa lahu waladun walahu ukhtun falahaa nishfu maa taraka wahuwa yaritsuhaa in lam yakun lahaa waladun fa-in kaanataa itsnatayni falahumaa altstsulutsaani mimmaa taraka wa-in kaanuu ikhwatan rijaalan wanisaa-an falildzdzakari mitslu hazhzhi aluntsayayni yubayyinu allaahu lakum an tadhilluu waallaahu bikulli syay-in ‘aliimun

176. Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah) [387]. Katakanlah : “Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu) : jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki dan perempuan, maka bahagian seorang saudara laki-laki sebanyak bahagian dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

7 dan 8. Paman dan anaknya serta seterusnya.

Nabi saw bersabda:

“Serahkanlah bagian-bagian itu kepada yang lebih berhak, kemudian sisanya untuk laki-laki yang lebih utama (dekat kepada mayyit).” (Muttafaqun’alaih: Fatul Bari XII: 11 no: 6732, Muslim III: 1233 no: 1615, Tirmidzi III: 283 no: 2179 dan yang semakna dengannya diriwayatkan Abu Dawud, ‘Aunul Ma’bud VIII: 104 no: 2881, Sunan Ibnu Majah II: 915 no. 2740).

9. Suami.

Allah swt berfirman:

“Dan bagimu (suami-isteri) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu.” (QS An Nisaa’: 12).

10. Laki-laki yang memerdekakan budak.

Sabda Nabi saw:

“Hak ketuanan itu milik orang yang telah memerdekakannya.”

 

PEREMPUAN-PEREMPUAN YANG MENJADI AHLI WARIS

Perempuan-perempuan yang berhak menjadi ahli waris ada tujuh:

1 dan 2. Anak perempuan dan puteri dari anak laki-laki dan seterusnya.

Firman-Nya:

“Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu.” (QS An Nisaa’: 11).

3 dan 4. Ibu dan nenek.

Firman-Nya:

“Dan untuk dua orang ibu bapak, bagi masing-masing seperenam.” (QS An Nisaa’: 11).

5. Saudara perempuan.

Allah swt berfirman:

“Jika seorang meninggal dunia dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkan itu.” (QS An Nisaa’: 176).

6. Isteri.

Allah swt berfirman:

“Para isteri memperoleh seperempat dari harta yang kamu tinggalkan.” (QS An Nisaa’: 12).

7. Perempuan yang memerdekakan budak.

Sabda Nabi saw:

“Hak ketuanan itu menjadi hak milik orang yang memerdekakannya.” (Muttafaqun’alaih: Fathul Bari I: 550 no: 456, Muslim II: 1141 no: 1504, ’Aunul Ma’bud X: 438 no: 3910, Ibnu Majah II: 842 no: 2521).

 

ORANG-ORANG YANG BERHAK MENDAPATKAN WARISAN

Orang-orang yang berhak mendapatkan harta peninggalan ada tiga kelompok, yaitu: dzu fardh (kelompok yang sudah ditentukan bagiannya), kedua, ashabah dan ketiga rahim (atau disebut juga ulul arham).

Bagian-bagian yang telah ditetapkan dalam Kitabullah Ta’ala ada enam: (pertama) separuh, (kedua) seperempat, (ketiga) seperdelapan, (keempat) dua pertiga, (kelima) sepertiga, dan (keenam) seperenam.

A. Yang dapat 1/2

1. Suami yang dapat seperdua (dari harta peninggalan isteri), bila si mayyit tidak meninggalkan anak.
Allah swt berfirman: “Dan kamu dapat separuh dari apa yang ditinggalkan isteri-isteri kamu, jika mereka tidak meninggalkan anak.” (QS An Nisaa’: 12).

2. Seorang anak perempuan.
Firman-Nya: “Dan jika (anak perempuan itu hanya) seorang, maka ia dapat separuh.” (QS An Nisaa’: 11).

3. Cucu perempuan, karena ia menempati kedudukan anak perempuan menurut ijma’ (kesepakatan) ulama’.
Ibnu Mundzir berkata, “Para ulama’ sepakat bahwa cucu laki-laki dan cucu perempuan menempati kedudukan anak laki-laki dan anak perempuan. Cucu laki-laki sama dengan anak laki-laki, dan cucu perempuan sama dengan anak perempuan, jika si mayyit tidak meninggalkan anak kandung laki-laki.” (Al Ijma’ hal. 79)

4. dan 5. Saudara perempuan seibu dan sebapak dan saudara perempuan sebapak.
Firman-Nya: “Jika seorang meninggal dunia, padahal ia tidak mempunyai anak, tanpa mempunyai saudara perempuan, maka saudara perempuan dapat separuh dari harta yang ia tinggalkan itu.” (QS An Nisaa’: 176)

B. Yang dapat 1/4 ; dua orang.

1. Suami dapat seperempat, jika isteri yang wafat meninggalkan anak.
Firman-Nya: “Tetapi jika mereka meninggalkan anak, maka kamu dapat seperempat dari harta yang mereka tinggalkan.” (QS An Nisaa’: 12).

2. Isteri, jika suami tidak meninggalkan anak.
Firman-Nya: “Dan isteri-isteri kamu mendapatkan seperempat dari apa yang kamu tinggalkan, jika kamu tidak meninggalkan anak.” (QS An Nisaa’: 12).

C. Yang dapat 1/8; hanya satu (yaitu):

Istri dapat seperdelapan, jika suami meninggalkan anak.
Firman-Nya: “Tetapi jika kamu tinggalkan anak, maka isteri-isteri kamu dapat seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan.” (QS An Nisaa’: 12).

D. Yang dapat 2/3; empat orang

1 dan 2. Dua anak perempuan dan cucu perempuan (dari anak laki-laki).
Firman-Nya: “Tetapi jika anak-anak (yang jadi ahli waris) itu perempuan (dua orang) atau lebih dari dua orang, maka mereka daat dua pertiga dari harta yang ditinggalkan (oleh bapaknya).” (QS An Nisaa’: 11).

3 dan 4. Dua saudara perempuan seibu sebapak dan dua saudara perempuan sebapak.
Firman-Nya: “Tetapi jika adalah (saudara perempuan) itu dua orang, maka mereka dapat dua pertiga dari harta yang ia tinggalkan.” (QS An Nisaa’: 176).

E. Yang dapat 1/3; dua orang:

1. Ibu, jika ia tidak mahjub (terhalang).
Firman-Nya: “Tetapi jika si mayyit tidak mempunyai anak, dan yang jadi ahli warisnya (hanya) ibu dan baoak, maka bagi ibunya sepertiga.” (QS An Nisaa’: 11).

2. Dua saudara seibu (saudara tiri) dan seterusnya.
Firman-Nya: “Dan jika si mayyit laki-laki atau perempuan tak meninggalkan anak dan tidak (pula) bapak, tetapi ia mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu) atau saudara perempuan (seibu), maka tiap-tiap orang dari mereka berdua itu, dapat seperenam, tetapi jika saudara-saudara itu lebih dari itu maka mereka bersekutu dalam sepertiga itu.” (QS An Nisaa’: 12).

F. Yang dapat 1/6; ada tujuh orang:

1. Ibu dapat seperenam, jika si mayyit meninggalkan anak atau saudara lebih dari seorang.
Firman-Nya: “Dan untuk dua orang ibu bapak, bagian masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal itu tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu bapaknya (saja), maka ibunya dapat sepertiga; jika yang wafat itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya dapat seperenam.” (QS An Nisaa’: 11).

2. Nenek, bila si mayyit tidak meningalkan ibu. Ibnul Mundzir menegaskan, “Para ulama’ sepakat bahwa nenek dapat seperenam, bila si mayyit tidak meninggalkan ibu.” (Al Ijma’ hal. 84).

3. Seorang saudara seibu, baik laki-laki ataupun perempuan.
Firman-Nya: “Dan jika si mayyit laki-laki atau perempuan itu tidak meninggalkan anak dan tidak (pula) bapak, tetapi ia mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu) atau saudara perempuan (seibu), maka tiap-tiap orang dari mereka berdua itu dapat seperenam.” (QS An Nisaa’: 12).

4. Cucu perempuan, jika si mayyit meninggalkan seorang anak perempuan:
Dari Abu Qais, ia bertutur: Saya pernah mendengar Huzail bin Syarahbil berkata, “Abu Musa pernah ditanya perihal (bagian) seorang anak perempuan dan cucu perempuan serta saudara perempuan.” Maka ia menjawab, “Anak perempuan dapat separuh dan saudara perempuan separuh (juga), dan temuilah Ibnu Mas’ud (dan tanyakan hal ini kepadanya) maka dia akan sependapat denganku!” Setelah ditanyakan kepada Ibnu Mas’ud dan pernyataan Abu Musa disampaikan kepadanya, maka Ibnu Mas’ud menjawab, “Sungguh kalau begitu (yaitu kalau sependapat dengan pendapat Abu Musa) saya benar-benar sesat dan tidak termasuk orang-orang yang mendapat hidayah. Saya akan memutuskan dalam masalah tersebut dengan apa yang pernah diputuskan Nabi saw: yaitu anak perempuan dapat separuh, cucu perempuan dari anak laki-laki dapat seperenam sebagai pelengkap dua pertiga (2/3), dan sisanya untuk saudara perempuan.’ Kemudian kami datang menemui Abu Musa, lantas menyampaikan pernyataan Ibnu Mas’ud kepadanya, maka Abu Musa kemudian berkomentar, ”Janganlah kamu bertanya kepadaku selama orang yang berilmu ini berada di tengah-tengah kalian.” (Shahih: Irwa-ul Ghalil no: 1863, Fathul Bari XII: 17 no: 6736, ’Aunul Ma’bud VIII: 97 no: 2873, Tirmidzi III: 285 no: 2173, namun dalam riwayat Abu Daud dan Tirmidzi tidak termaktub kalimat terakhir).

5. Saudara perempuan sebapak, jika si mayat meninggalkan seorang saudara perempuan seibu sebapak sebagai pelengkap dua pertiga (2/3), karena dikiaskan kepada cucu perempuan, bila si mayyit meninggalkan anak perempuan.

6. Bapak dapat seperenam, jika si mayyit meninggalkan anak.
Firman-Nya: “Dan bagi dua ibu bapaknya; buat tiap-tiap seorang dari mereka seperenam dari harta yang ditinggalkan (oleh anaknya), jika (anak itu) mempunyai anak.” (QS An Nisaa’: 11).

7. Datuk (kakek) dapat seperenam, bila si mayyit tidak meninggalkan bapak. Dalam hal ini Ibnul Mundzir menyatakan, “Para ulama’ sepakat bahwa kedudukan datuk sama dengan kedudukan ayah.” (Al Ijma’ hal. 84).

Sumber: Diadaptasi dari ‘Abdul ‘Azhim bin Badawi al-Khalafi, Al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil ‘Aziz, atau Al-Wajiz Ensiklopedi Fikih Islam dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah, terj. Ma’ruf Abdul Jalil (Pustaka As-Sunnah), hlm. 797 – 808

HAJB dan HIRMAN

A. Pengertian Hajb dan Hirman

Menurut bahasa, kata hajb berarti man’un (cegahan), namun yang dimaksud di sini ialah orang yang tertentu terhalang untuk mendapatkan seluruh warisannya atau sebagiannya disebabkan ada orang lain (yang menjadi hajib, penghalang). Adapun yang dimaksud kata hirman di sini ialah orang yang tertentu terhalang mendapat warisannya disebabkan ada salah satu faktor yang menghalangi seseorang mendapat harta warisan, misalnya pembunuhan dan semisalnya yang terkategori sebab-sebab yang menjadi penghalang mendapat harta warisan.

B. Pembagian Hajb

Hajb ada dua: hajb nuqshan dan kedua hajb hirman.

Adapun yang dimaksud hajb nuqshan ialah berkurangnya bagian seorang ahli waris karena ada orang lain, dan ini terjadi pada lima orang:

1. Suami, ia terhalang untuk mendapatkan separuh dari harta peninggalan, manakala si mayyit meninggalkan anak, sehingga ia hanya dapat seperempat.
2. Isteri, ia terhalang untuk mendapat seperempat, bila si mayyit meninggalkan anak, sehingga ia hanya dapat seperdelapan.
3. Ibu, ia terhalang untuk mendapatkan bagian sepertiga, jika si mayyit meninggalkan anak dan cucu yang berhak menjadi ahli waris, sehingga ia hanya mendapat seperenam.
4. Cucu perempuan.
5. Saudara perempuan sebapak.

Adapun hajb hirman yaitu seseorang tidak boleh mendapatkan warisan sedikitpun karena ada orang lain, misalnya terhalangnya saudara laki-laki untuk mendapatkan warisan bila si mayyit meninggalkan anak laki-laki, dan masalah ini (hajb hirman) tidak masuk padanya warisan dari enam ahli waris, meskipun mungkin saja terjadi pada keenam orang ini hajb nuqshan. Mereka adalah:

1 dan 2. Bapak dan Ibu.

3 dan 4. Anak laki-laki dan anak perempuan.

5 dan 6. Suami atau isteri.

Dan pembahasan hajb hirman ini mengenai selain enam orang tersebut dari kalangan orang-orang yang berhak jadi ahli waris.

 

Hajb hirman berpijak pada dua asas:

1. Bahwa setiap orang yang menisbatkan dirinya kepada mayyit dengan perantara orang lain, maka ia tidak berhak jadi ahli waris manakala orang lain tersebut masih hidup. Misalnya cucu laki-laki dari anak laki-laki, ia tidak bisa menjadi ahli waris bila bapaknya masih hidup, kecuali putera-puteri ibu, mereka tetap sah menjadi ahli waris bersama ibunya, padahal mereka menisbatkan dirinya kepada mayyit dengan perantara ibunya.
2. Yang lebih dekat harus lebih diutamakan daripada yang jauh. Misalnya anak laki-laki menjadi hajib (penghalang) bagi keponakan laki-lakinya dari saudara laki-lakinya. Jika mereka sederajat, maka yang harus diutamakan adalah yang lebih kuat kekerabatannya, misalnya saudara laki-laki sebapak seibu menjadi hajib (penghalang) bagi saudara laki-laki sebapak.

Sumber: Diadaptasi dari ‘Abdul ‘Azhim bin Badawi al-Khalafi, Al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil ‘Aziz, atau Al-Wajiz Ensiklopedi Fikih Islam dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah, terj. Ma’ruf Abdul Jalil (Pustaka As-Sunnah), hlm. 811 – 812.

‘ASHABAH

PENGERTIAN ‘ASHABAH

Menurut bahasa, kata ’ashabah adalah bentuk jama’ dari kata ’aashib, seperti kata thalabah adalah bentuk jama’ dari kata thaalib, (kata ’ashabah) yang berarti anak-anak laki-laki seorang dan kerabatnya dari ayahnya.

Sedang yang dimaksud dalam kajian faraidh di sini ialah orang-orang yang mendapat alokasi sisa dari harta warisan setelah ashabul furudh (orang-orang yang berhak mendapat bagian) mengambil bagiannya masing-masing. Jika ternyata harta warisan itu tidak tersisa sedikitpun, maka orang-orang yang terkategori ’ashabah itu tidak mendapat bagian sedikitpun, kecuali yang menjadi ’ashabah itu adalah anak laki-laki, maka sama sekali ia tidak pernah terhalang. (Pengertian ini dikutip dari Fiqhus Sunnah III: 437).

Segenap orang yang termasuk ’ashabah berhak juga mendapatkan harta warisan seluruhnya, bila tidak didapati seorangpun dari ashabul furudh:

Dari Ibnu Abbas ra bahwa Nabi saw bersabda, ”Serahkanlah bagian-bagian itu kepada yang berhak, kemudian sisanya untuk laki-laki yang lebih utama (lebih dekat kepada si mayyit).” (Teks hadits dan takhrijnya sudah termaktub pada halaman sebelumnya).

Allah swt berfirman:

“Dan saudara laki-laki itu menjadi ahli waris pusaka saudara perempuannya, jika saudara perempuan tersebut tidak mempunyai anak (laki-laki).” (QS An Nisaa’: 176).

Jadi, seluruh harta warisan harus diserahkan kepada saudara laki-laki, ketika ia sendirian, dan kiaskanlah seluruh ’ashabah yang lain kepadanya.

KLASIFIKASI ‘ASHABAH

’Ashabah terbagi dua, yaitu ’ashabah sababiyah dan ’ashabah nisbiyah.

A. ’Ashabah sababiyah ialah ’ashabah yang terjadi karena telah memerdekakan budak.

Nabi saw bersabda:

”Hak ketuanan itu milik bagi orang memerdekakannya.” (Teks hadits dan takhrijnya sudah termuat pada halaman sebelumnya).

Sabda Beliau saw lagi:

”Hak ketuanan itu adalah daging seperti daging senasab.” (Teks hadits dan takhrijnya sudah dimuat pada halaman sebelumnya).

Orang laki-laki atau perempuan yang memerdekakan budak tidak boleh menjadi ahli waris, kecuali apabila yang bekas budak itu tidak meninggalkan orang yang termasuk ’ashabah nasabiyah:

Dari Abdullah bin Syaddad dari puteri Hamzah, ia berkata, ”Bekas budakku telah meninggal dunia dan ia meninggalkan seorang puteri, maka Rasulullah saw membagi harta peninggalannya kepada kami dan kepada puterinya, yaitu Beliau menetapkan separuh untukku dan separuhnya (lagi) untuk dia.” (Hasan: Shahih Ibnu Majah no: 2210, Ibnu Majah II: 913 no: 2734 dan Mustadrak Hakim IV: 66).

B. Adapun ‘ashabah nasabiyah ada tiga kelompok:

1. ‘Ashabah binafsih, yaitu orang-orang yang menjadi ‘ashabah dengan sendirinya: Mereka adalah orang-orang laki-laki yang menjadi ahli waris selain suami dan anak dari pihak ibu.

2. ‘Ashabah bighairih, ya’ni orang-orang yang jadi ‘ashabah disebabkan ada orang lain: Mereka adalah anak perempuan, cucu perempuan, saudara perempuan seibu sebapak, dan saudara perempuan sebapak. Jadi, masing-masing dari mereka itu kalau ada saudara laki-lakinya menjadi ’ashabah mendapat separuh dari harta warisan.

Firman-Nya:

“Dan jika mereka (yang jadi ahli waris) itu saudara-saudara laki-laki dan perempuan, maka bagi saudara laki-laki itu bagian dua saudara perempuan.” (QS An Nisaa’: 176).

3. ‘Ashabah ma’aghairih, yaitu orang-orang yang jadi ‘ashabah bersama orang lain: Mereka adalah saudara-saudara perempuan bersama anak-anak perempuan; berdasarkan hadits:

Dari Ibnu Mas’ud ra, ia berkata, “Dan sisanya untuk saudara perempuan.” (Teks hadits dan takhrijnya sudah dimuat pada halaman sebelumnya).

Sumber: Diadaptasi dari ‘Abdul ‘Azhim bin Badawi al-Khalafi, Al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil ‘Aziz, atau Al-Wajiz Ensiklopedi Fikih Islam dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah, terj. Ma’ruf Abdul Jalil (Pustaka As-Sunnah), hlm. 808 – 810.

 

Iklan
Published in: on Oktober 25, 2010 at 4:49 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

..MAWARIS..

1. PENGERTIAN MAWARIS

a. Pengertian

Mawaris secara etimologis adalah bentuk jamak dari kata tunggal miras yang artinya warisan. Dalam hukum Islam dikenal dengan adanya ketentuan-ketentuan tentang siapa yang termasuk ahli waris yang berhak menerima warisan, dan ahli waris yang tidak berhak menerimanya.Mawaris juga disebut ilmu faraid,artinya ketentuan-ketentuan bagian ahli waris yang diatur secara rinci didalam alqur,an.Mawaris didefenisikan sebagai “ilmu yang mempelajari orang-orang yang mewarisi dan tidak mewarisi , kadar yang diterima setiap ahli waris dan cara-cara pembagiannya.Dalam istilah sehari-hari, mawaris disebut juga dengan warisan yang sebenarnya merupakan terjemahan bebas dari kata fiqh mawaris. Bedanya mawaris menunjukkan identitasi umum, biasa mencakup hukum waris adat atau hukum waris yang diatur dalam KUH Perdata.

Dalam konteks yang lebih umum warisan berarti perpindahan hak kebendaan dari orang yang meninggal kepada ahli warisnya.yang masih hidup
Beberapa pengertian diatas dapat ditegaskan bahwa pengertian fiqh mawaris adalah ilmu yang mempelajari tentang siapa yang termasuk ahli waris, bagian-bagian yang diterimanya dan bagian-bagian yang diterimanya.

b Beberapa istilah dalam faraid

– Waris, adalah orang yang termasuk ahli waris yang berhak menerima warisan.
– Muwarris, artinya orang yang diwarisi harta peninggalannya, yaitu orang-orang yang maninggal dunia, baik meninggal secara hakiki atau melalui keputusan hakim.
– Al-Irs, artinya harta warisan yang siap dibagi oleh ahli sesudah diambil untuk kepentingan jenazah, pelunasan hutang, serta pelaksanaan wasiat.
– Warasah, yaitu harta warisan yang telah diterima ahli waris. Ini berbeda dengan harta pusaka yang dibeberapa daerah tertentu tidak bisa dibagi, karena menjadi milik kolektif semua ahli waris.
– Tirkah, yaitu semua harta peninggalan orang yang meninggal dunia sebelum diambil untuk kepentingan pemeliharaan jenazah, pembayaran utang, dan pelaksanaan wasiat.

C Sumber-sumber kewarisan Islam

a. Al-Qur,an
– Penghapusan ketentuan bahwa penerima warisan adalah kerabat yang laki-laki dan dewasa saja, melalui firman Allah QS.al-Nisa:7 dan 127,yaitu bahwa ahli waris laki-laki dan perempuan, termasuk didalamnya anak-anak, masing-masing berhak menerima warisan sesuai dengan bagian yang ditentukan .

 

QS An-Nisa : 7

 

lilrrijaali nashiibun mimmaa taraka alwaalidaani waal-aqrabuuna walilnnisaa-i nashiibun mimmaa taraka alwaalidaani waal-aqrabuuna mimmaa qalla minhu aw katsura nashiiban mafruudaan

 

7. Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, dan bagi orang wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bahagian yang telah ditetapkan.

 

QS. An-Nisa 127


wayastaftuunaka fii alnnisaa-i quli allaahu yuftiikum fiihinna wamaa yutlaa ‘alaykum fii alkitaabi fii yataamaa alnnisaa-i allaatii laa tu/tuunahunna maa kutiba lahunna watarghabuuna an tankihuuhunna waalmustadh‘afiina mina alwildaani wa-an taquumuu lilyataamaa bialqisthi wamaa taf’aluu min khayrin fa-inna allaaha kaana bihi ‘aliimaan

 

127. Dan mereka minta fatwa kepadamu tentang para wanita. Katakanlah : “Allah memberi fatwa kepadamu tentang mereka, dan apa yang dibacakan kepadamu dalam Al-Qur’an [354] (juga memfatwakan) tentang para wanita yatim yang kamu tidak memberikan kepada mereka apa [355] yang ditetapkan untuk mereka, sedang kamu ingin mengawini mereka [356] dan tentang anak-anak yang masih dipandang lemah. Dan (Allah menyuruh kamu) supaya kamu mengurus anak-anak yatim secara adil. Dan kebajikan apa saja yang kamu kerjakan, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahuinya.

 

– Penghapusan ikatan persaudaraan antara golongan muhajirin dan Ansar sebagai dasar mewarisi melalui QS.al-Ahzab; 6.

 

QS. Al-Ahzab : 6

 

 

alnnabiyyu awlaa bialmu/miniina min anfusihim wa-azwaajuhu ummahaatuhum wauluu al-arhaami ba’dhuhum awlaa biba’dhin fii kitaabi allaahi mina almu/miniina waalmuhaajiriina illaa an taf’aluu ilaa awliyaa-ikum ma’ruufan kaana dzaalika fii alkitaabi masthuuraan

 

6. Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri [1201] dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka. Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmim dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu berbuat baik [1202] kepada saudara-saudaramu (seagama). Adalah yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Allah).
– Penghapusan pengangkatan anak sebagai dasar pewarisan, melalui QS al-Ahzab: 4-5, dan 40.

 

QS. Al-Ahzab : 4

maa ja’ala allaahu lirajulin min qalbayni fii jawfihi wamaa ja’ala azwaajakumu allaa-ii tuzhaahiruuna minhunna ummahaatikum wamaa ja’ala ad’iyaa-akum abnaa-akum dzaalikum qawlukum bi-afwaahikum waallaahu yaquulu alhaqqa wahuwa yahdii alssabiila

 

4. Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya; dan Dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zhihar [1199] itu sebagai ibumu, dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu dimulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar).

QS. Al-Ahzab : 5

ud’uuhum li-aabaa-ihim huwa aqsathu ‘inda allaahi fa-in lam ta’lamuu aabaa-ahum fa-ikhwaanukum fii alddiini wamawaaliikum walaysa ‘alaykum junaahun fiimaa akhtha/tum bihi walaakin maa ta’ammadat quluubukum wakaana allaahu ghafuuran rahiimaan

 

5. Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu [1200]. Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

QS. Al-Ahzab : 40

 
maa kaana muhammadun abaa ahadin min rijaalikum walaakin rasuula allaahi wakhaatama alnnabiyyiina wakaana allaahu bikulli syay-in ‘aliimaan

 

40. Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu [1224], tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

 

b. Al-Hadis
c. Al-Ijma, artinya kaum Muslimin menerima ketentuan hukum warisan yang terdapat di Al-Qur,an dan al-sunnah sebagai ketentuan hukum yang harus dilaksanakan dalam upaya mewujudkan keadilan dalam masyarakat. Karena telah diterima secara sepakat, maka tidak ada alasan untuk menolaknya.

d. Al-Ijtihad, ,yaitu pemikiran para sahabat atau ulama yang memiliki cukup syarat dan kriteria sebagai mujtahid untuk menjawab persoalan-persoalan yang muncul dalam pembagian harta warisan. Yang dimaksud disini ijtihad dalam menerapkan hukum , bukan untuk mengubah pamahaman atau ketentuan yang ada.

II. HALANGAN MENERIMA WARISAN.
Halangan untuk menerima warisan atau disebut mawani al- irs adalah hal-hal yang menyebabkan gugurnya hak-hak ahli waris untuk menerima warisan dari harta peninggalan al-muwarris.Adapun hal-hal yang dapat menghalangi tersebut, yang disepakati ulama ada tiga (3), yaitu :
1. Pembunuhan
2. Berlainan agama
3. Perbudakan
4. Berlainan negara.

1. “Pembunuhan” yang dilakukan ahli waris terhadap al-muwarris menyebabkannya tidak dapat mewarisi harta peninggalan orang yang diwarisinya.

2. “Berlainan agama” yang menjadi penghalangan mewarisi adalah apabila antara ahli waris dan al-muwarris salah satunya beragama Islam, yang lain bukan Islam.Misalnya ahli waris beragama Islam, muwarrisnya beragama Kristen, atau sebaliknya.

3. “Perbudakan” menjadi penghalangan mewarisi, bukanlah karena status kemanusiaannya, tetapi semata-mata karena status formal nya sebagai hamba sahaya (budak).Seorang budak tehalang untuk menerima warisan karena ia dianggap tidak cakap melakukan hukum.

4. “Berlainan agama” pengertian negara adalah suatu wilayah yang ditempati suatu bangsa yang memiliki angkatan bersenjata sendiri, kepala negara tersendiri, dan memiliki kedaulatan sendiri dan tidak ada ikatan kekuasaan dengan negara asing . Maka dalam konterks ini, negara bagian tidak dapat dikatakan sebagai negara yang berdiri sendiri, karena kekuasaan berada di negara federal.

Adapun berlainan negara yang menjadi penghalang mewarisi adalah apabila diantara ahli waris dan muwarrisnya berdomisili di dua negara yang berbeda kriterianya seperti tersebut diatas.

Apabila dua negara sama-sama muslim, menurut para ulama, tidak menjadi penghalang mewarisi. Malahan, mayoritas ulama mengatakan, meskipun negaranya berbeda, apabila antara para ahli waris dan muwarrisnya non muslim, tidak berhalangan bagi mereka untuk saling mewarisi.

III. AHLI WARIS DAN MACAM-MACAMNYA.


Kata ahli waris yang secara bahasa berarti keluarga, tidak otomatis ia dapat mewarisi harta peninggalan saudaranya yang meninggal dunia.

Ada dua macam ahli waris, yaitu :

1. Ahli waris nasabiah, karena hubungan darah
2. Ahli waris sababiyah, timbul karena:
– Perkawinan yang sah (al-musaharah),
– Memerdekakan hamba sahaya (al-wala’) atau karena perjanjian tolong-menolong.

Apabila dilihat dari segi bagian-bagian yang diterima, dapat dibedakan kepada.:

1. Ahli waris ashab al-furud, yitu ahli waris yang menerima bagian yang telah ditentukan besar kecilnya, seperti ½, 1/3,atau 1/6.
2. Ahli waris assabah , yaitu ahli waris yang menerima sisa setelah harta dibagikan kepada ahli waris ashab al-furud.
3. Ahli waris zawi al-arham, yaitu ahli waris karena hubungan darah ,tetapi menurut ketentuan al-quran tidak berhak menerima warisan.

a. Ahli waris ashab al-furud dan hak-haknya.
Pada penjelasan di bawah ini tidak dipisahkan lagi antara ahli waris nasabiah dan sababiah. Pertimbanganya mereka sama-sama sebagai ashab al-furud.
Pada umumnya ahli waris ashab al-furud adalah perempuan, sementara ahli waris laki-laki yang menerima bagian tertentu adalah bapak, kakek, dan suami. Selain itu, menerima bagian sisa (‘asabah).

Adapun hak-hak yang diterima ahli waris ashab al-furud adalah :
1. Anak perempuan, berhak menerima bagian :
1/2 jika sendirian tidak bersama anak laki-laki
2/3 jika dua orang atau lebih tidak bersama anak laki-laki

2. Cucu perempuan garis laki-laki, berhak menerima :
1/2 jika sendirian, tidak bersama cucu laki-laki dan tidak mahjub (terhalang).
2/3 jika dua orang atau lebih, tidak bersama cucu laki-laki dan tidak mahjub.
1/6 sebagai pelengakap 2/3 jika bersama seorang anak perempuan, tidak ada cucu laki-laki dan tidak mahjub. Jika anak perempuan 2 orang atau lebih ia tidak mendapat bagian.

3. Ibu, berhak menerima bagian :
1/3 jika ada anak atau cucu (far’u waris) atau saudara dua orang atau lebih.
1/6 jika ada far’u waris atau bersama dua orang saudara atau lebih
1/3 x sisa, dalam masalah garrawain, yaitu apabila ahli waris terdiri dari : suami/istri, ibu dan bapak.

4. Bapak, berhak menerima bagian :
1/6 jika ada anak laki-laki atau cucu laki-laki
1/6+sisa, jika bersama anak perempuan atau cucu perempuan garis laki-laki.
Jika bapak bersama ibu :
– masing-masing 1/6 jika ada anak, cucu atau saudara dua orang atau lebih.
– 1/3 untuk ibu, bapak menerima sisanya, jika tidak ada anak, cucu atau
saudara dua orang lebih.
– ibu menerima 1/3 sisa, bapak sisanya setelah diambil untuk suami atau isteri.

5. Nenek jika tidak mahjub berhak menerima bagian :
1/6 jika seorang
1/6 dibagi rata, apabila nenek lebih dari 2 orang dan sederajat kedudukanya.

6. Kakek, jika tidak mahjub, berhak menerima bagian :
1/6 jika bersama anak laki-laki atau cucu laki-laki
1/6+sisa, jika bersama anak atau cucu perempuan tanpa ada anak laki-laki.

1/6 atau muqasamah (bagi rata) dengan saudara sekandung atau seayah, setelah diambil untuk ahli waris lain
1/3 atau muqasamah bersama saudara sekandung atau seayah, jika tidak ada ahli waris lain.

7. Saudara perempuan sekandung, jika tidak mahjub, berhak menerima bagian : 1/2 jika seorang, dan tidak bersama saudara laki-laki sekandung.
2/3 dua orang atau lebih, tidak bersama saudara laki-laki sekandung.

8. Saudara perempuan seayah, jika tidak mahjub, berhak menerima bagian :
1/2 seorang diri dan tidak bersama saudara laki-laki seayah
2/3 dua orang atau lebih tidak bersama saudara laki-laki seayah
1/6 jika bersama dengan saudara perempuan sekandung seorang, sebagai pelengkap 2/3.

9. Saudara seibu, baik laki-laki atau perempuan kedudukanya sama. Apabila tidak mahjub, saudara seibu berhak menerima bagian :
1/6 jika seorang diri
1/3 dua orang atau lebih
Bergabung menerima 1/3 dengan saudara sekandung, ketika bersama-sama dengan ahli waris suami dan ibu (musyarakah).

10. Suami, berhak menerima bagian :
1/2 jika tidak mempunyai anak atau cucu
1/8 jika bersama anak dan cucu

Jika seluruh ahli waris ada, tidak semua menerima bagian karena yang dekat menghijab yang jauh. Ahli waris yang dapat menerima bagian adalah :

– anak perempuan 1/2
– cucu perempuan 1/6
– ibu 1/6
– bapak 1/6 + sisa
– isteri/suami 1/8 / 1/4 .
b Ahli Waris Nasabiyah

Ahli waris nasabiyah adalah ahli waris yang pertalian kekerabatannya kepada muwarris berdasarkan hubungan darah.Ahli waris nasabiyah ini terdiri dari 13 orang laki-laki dan 8 orang perempuan.

Ahli waris laki-laki, berdasarkan urutan kelompoknya sebagai berikut.
1. Anak laki-laki (al-ibn)
2. Cucu laki-laki garis laki-laki (ibn al-ibn) dan seterusnya kebawah.
3. Bapak (al-ab)
4. Kakek dari bapak (al-jadd min jihat al-ab)
5. Saudara laki-laki sekandung (al-akh al-syaqqiq)
6. Saudara laki-laki seayah (al-akh li al-ab)
7. Saudara laki-laki seibu (al-akh li al-umm)
8. Anak laki-laki saudara lak-laki sekandung (ibn al-akh al-syaqiq)
9. Anak laki-laki saudara laki-laki seayah (ibnal-akh li al-ab)
10. Paman, saudara bapak sekandung (al-amm al-syaqiq)
11. Paman seayah (al-amm li al- ab)
12. Anak laki-laki paman sekandung (ibn al-amm al-syaqiq)
13. Anak laki-laki paman seayah (ibn al-amm li al-ab)

Adapun ahli waris perempuan semuanya ada 8 orang, yang rinciannya sebagai berikut:
1. Anak perempuan (al-bint)
2. Cucu perempuan garis laki-laki (bint al-ibn)
3. Ibu (al-umm)
4. Nenek garis bapak (al-jaddah min jihat al-ab)
5. Nenek garis ibu (al-jaddah min jihat al-umm)
6. Saudara perempuan sekandung (al- ukht al-syaqiqah)
7. Saudara perempuan seayah (al-ukht li al-ab)
8. Saudara perempuan seibu (al-ukht al-umm)

IV. HARTA WARISAN ANAK YANG MASIH DIDALAM KANDUNGAN

 

Di dalam Islam, bayi yang masih dalam kandungan ibunya, jika pewarisnya meninggal dunia termasuk ahli waris yang berhak menerima warisan, sama seperti ahli waris lainnya. Namun demikian karena masih dalam kandungan, belum bisa dipastikan bahwa akan lahir hidup atau mati. Begitu pula belum diketahui secara persis jenis kelaminnya.Untuk menentukan beberapa bagian yang diterimanya.

a. Batas Minimal dan Maksimal Usia Kandungan
Para ulama sepakat bahwa batas usia minimal usia bayi didalam kandungan adalah 6 bulan dihitung dari saat akad nikah dilangsungkan .
Oleh karena itu apabila bayi lahir kurang dari batas waktu 6 (enam) bulan, tidak bisa dihubungkan kekerabatannya kepada bapaknya. Status digolongkan sebagai anak zina.Praktis sibayi hanya bisa dinasabkan kepada ibunya saja.

Pendapat lain mengatakan bahwa batas minimal usia bayi di dalam  270 hari). Ini ±kandungan adalah adalah 9 (sembilan ) bulan Qamaiyah (  adalah pendapat Ibn al-Human dan sebagian ulama Hanabillah, yang diikuti oleh undang-undang warisan Mesir.

Hukum Adat di Indonesia, terutama didaerah-daerah yang tidak dipengaruhi hukum Islam, tidak begitu dipermasalahkan usia kandungan.Sepanjang anak itu lahir dalam ikatan perkawinan yang sah.

Jadi ada perbedaan yang sangat prinsipil antara hukum Islam dan hukum adat dibeberapa lingkungan hukum Indonesia.Namun demikian, apakah dalam kenyataan sekarang hukum tersebut masih bisa diterima masyarakat atau bahkan diperlonggar lagi, perlu penelitian sendiri. Boleh jadi kenyataan demikian pengaruh langsung dari hukum produk pemikiran Barat, melalui KUHP (Kitab Undang Hukum Pidana) KUH Perdata , dan lain-lain.

Adapun batas maksimal usia bayi didalam kandungan, para ulama berbeda berpendapat. Batasan ini dihitung dari putusnya perkawinan sampai dengan kelahiran anak.Karena usaha mengetahui batas maksimal usia bayi dalam kandungan tersebut dimaksudkan untuk menentukkan nasabnya kepada siapa dihubungkan. Para ulama berbeda pendapat dalam menetapkan batas waktu maksimal usia bayi dalam kandungan .Ada yang menetapkan satu tahun qamaryah, ada yang satu tahun syamsyah, 2 tahun, 3 tahun, dan 5 tahun.

b. Harta Warisan Orang Banci (KHUNSA AL- MUSYKIL)
Khunsa dari akar kata al-khans jamaknya khunasa artinya lembut atau pecah.Yang dimaksud khunsa secara terminologis adalah orang yang memiliki alat kelamin laki-lakui dan perempuan sekaligus, atau tidak memiliki alat kelamin sama sekali. Muslich Maruzi mendefenisikan, khunsa adalah orang yang diragukan jenis kelaminnya apakah ia laki-laki atau perempuan. Karena kalau menyebut banci adalah wadam (wanita adam) atau waria (wanita-pria) atau gay. Sebenarnya istilah wadam dan waria tidak mesti identik (sama) yang dimaksud khunsa al musykil. Karena penyebutan wadam atau waria, asosiasinya mungkin secara fisik adalah laki-laki, mungkin secara kejiwaan atau mungkin hormontal penampilannya perempuan.Sementara khunsa al-musykil memang tidak jelas kelaminnya, baik karena berkelamin ganda atau tidak berkelamin sama sekali.

Pada dasarnya untuk menentukan berapa bagian yang harus diterima oleh orang banci, apabila dimungkinkan adalah mencari kejelasan jenis kelaminnya. Tetapi apabila sulit menentukannya, para ulama sepakat bahwa didalam menentukan status hukumnya, indikasi fisiklah yang dipedomani, bukan gejala-gejala psikisnya

Cara lain yang bisa ditempuh adalah meneliti tanda-tanda kedewasaannya, karena antara laki-laki dan perempuan apabila sudah mulai tumbuh dewasa terdapat perbedaan ciri-ciri yang menonjol.Misalnya tumbuh kumis, jenggot, buah tenggorokan, suaranya besar jika laki-laki.Atau buah dadanya menonjol, tidak berkumis, dan lain-lain jika perempuan.

Sekiranya tanda-tanda tersebut dapat diketahui dengan jelas, maka dapat digolongkan kepada khunsa ghoiru musykil.Maka untuk menentukan bagian warisannya cukup dilakukan menurut alat atau jenis kelamin yang diketahui tersebut.

C. Harta Warisan Non-Muslim Dan Orang Yang Murtad
Penghalang warisan diantaranya berlainan agama. Mayoritas ulama berpendapat bahwa sepanjang ada perbedaan agama antara muwarris dan ahli warisnya antara muslim dan non muslim maka mereka terhalang untuk saling mewarisi.Atas dasar dalil ayat dan hadis dapat ditegaskan bahwa harta warisan orang-orang muslim dan orang-orang yang murtad, tidak bisa diwarisi oleh saudaranya yang muslim (meskipun diantara mereka berbeda agama, seperti Katolik dan Protestan, Hindu dan Budha, atau Katolik dan Budha).

Bagi orang yang murtad, para ulama dengan tegas menyatakan bahwa harta warisan mereka tidak bisa diwariskan oleh siapapun, termasuk ahli waris mereka yang sama-sama murtad.Harta peninggalannya menjadi harta fai’ yang diserahkan ke bait al-mal untuk kepentingan umum.Hal ini karena orang murtad telah memutuskan silah syariah kepada ahli waris.

KESIMPULAN

Jadi, seperti yang telah kita ketahui bersama, bahwa hukum waris diIndonesia masih beraneka warna coraknya, dimana tiap-tiap golongan penduduk termasuk kepada hukumnya masing-masing, antara lain hal ini dapat dilihat dari golongan masyarakat yang beragama Islam kepadanya diberlakukan hukum kewarisan Islam, baik mengenai tata cara pembagian antara anak laki-laki dan anak perempuan, anak angkat, lembaga peradilan yang berhak memeriksa dan memutuskan sengketa warisan apabila terjadi perselisihan diantara ahli waris dan lain sebagainya.

Untuk golongan masyarakat non muslim, mereka tunduk dan taat kepada hukum adat masing-masing dimana sisi dipengaruhi oleh unsur-unsur agama dan kepercayaan.Begitu juga terhadap golongan eropa dan yang dipersamakan dengan mereka, aturan tentang hukum waris ini aspirasinya separuhnya diserahkan kepada hukum perdata eropa (Kitab Undang-Undang Hukum Perdata).

DAFTAR PUSTAKA
http://www.jessitaputridhiary.wordpress.com

Fatcthur Rahman, Ilmu Waris, Bandung: Al-Ma’rif, 1981.
Al-fanary, khasyyah syarh al-sirajiyah, Kairo: tp.tt.
Rofiq Ahmad, fiqih mawaris,Jakarta:PT Raja Grafindo Persada,1998.

 

Published in: on Oktober 25, 2010 at 3:43 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

MAWARIS 3

BAB : I
1. PENGERTIAN FIQH MAWARIS

a. Pengertian

Mawaris secara etimologis adalah bentuk jamak dari kata tunggal miras yang artinya warisan. Dalam hukum Islam dikenal dengan adanya ketentuan-ketentuan tentang siapa yang termasuk ahli waris yang berhak menerima warisan, dan ahli waris yang tidak berhak menerimanya.Mawaris juga disebut ilmu faraid,artinya ketentuan-ketentuan bagian ahli waris yang diatur secara rinci didalam alqur,an.Mawaris didefenisikan sebagai “ilmu yang mempelajari orang-orang yang mewarisi dan tidak mewarisi , kadar yang diterima setiap ahli waris dan cara-cara pembagiannya.Dalam istilah sehari-hari, mawaris disebut juga dengan warisan yang sebenarnya merupakan terjemahan bebas dari kata fiqh mawaris. Bedanya mawaris menunjukkan identitasi umum, biasa mencakup hukum waris adat atau hukum waris yang diatur dalam KUH Perdata.

Dalam konteks yang lebih umum warisan berarti perpindahan hak kebendaan dari orang yang meninggal kepada ahli warisnya.yang masih hidup
Beberapa pengertian diatas dapat ditegaskan bahwa pengertian fiqh mawaris adalah ilmu yang mempelajari tentang siapa yang termasuk ahli waris, bagian-bagian yang diterimanya dan bagian-bagian yang diterimanya.

b Beberapa istilah dalam faraid
– Waris, adalah orang yang termasuk ahli waris yang berhak menerima warisan.
– Muwarris, artinya orang yang diwarisi harta peninggalannya, yaitu orang-orang yang maninggal dunia, baik meninggal secara hakiki atau melalui keputusan hakim.
– Al-Irs, artinya harta warisan yang siap dibagi oleh ahli sesudah diambil untuk kepentingan jenazah, pelunasan hutang, serta pelaksanaan wasiat.
– Warasah, yaitu harta warisan yang telah diterima ahli waris. Ini berbeda dengan harta pusaka yang dibeberapa daerah tertentu tidak bisa dibagi, karena menjadi milik kolektif semua ahli waris.
– Tirkah, yaitu semua harta peninggalan orang yang meninggal dunia sebelum diambil untuk kepentingan pemeliharaan jenazah, pembayaran utang, dan pelaksanaan wasiat.

C Sumber-sumber kewarisan Islam
a. Al-Qur,an
– Penghapusan ketentuan bahwa penerima warisan adalah kerabat yang laki-laki dan dewasa saja, melalui firman Allah QS.al-Nisa:7 dan 127,yaitu bahwa ahli waris laki-laki dan perempuan, termasuk didalamnya anak-anak, masing-masing berhak menerima warisan sesuai dengan bagian yang ditentukan .
– Penghapusan ikatan persaudaraan antara golongan muhajirin dan Ansar sebagai dasar mewarisi melalui QS.al-Ahzab; 6.
– Penghapusan pengangkatan anak sebagai dasar pewarisan, melalui QS al-Ahzab: 4-5, dan 40.

b. Al-Hadis
c. Al-Ijma, artinya kaum Muslimin menerima ketentuan hukum warisan yang terdapat di Al-Qur,an dan al-sunnah sebagai ketentuan hukum yang harus dilaksanakan dalam upaya mewujudkan keadilan dalam masyarakat. Karena telah diterima secara sepakat, maka tidak ada alasan untuk menolaknya.

d. Al-Ijtihad, ,yitu pemikiran para sahabat atau ulama yang memiliki cukup syarat dan kriteria sebagai mujtahid untuk menjawab persoalan-persoalan yang muncul dalam pembagian harta warisan. Yang dimaksud disini ijtihad dalam menerapkan hukum , bukan untuk mengubah pamahaman atau ketentuan yang ada.

BAB : II

II. HALANGAN MENERIMA WARISAN.
Halangan untuk menerima warisan atau disebut mawani al- irs adalah hal-hal yang menyebabkan gugurnya hak-hak ahli waris untuk menerima warisan dari harta peninggalan al-muwarris.Adapun hal-hal yang dapat menghalangi tersebut, yang disepakati ulama ada tiga (3), yaitu :
1. Pembunuhan
2. Berlainan agama
3. Perbudakan
4. Berlainan negara.

1. “Pembunuhan” yang dilakukan ahli waris terhadap al-muwarris menyebabkannya tidak dapat mewarisi harta peninggalan orang yang diwarisinya.

2. “Berlainan agama” yang menjadi penghalangan mewarisi adalah apabila antara ahli waris dan al-muwarris salah satunya beragama Islam, yang lain bukan Islam.Misalnya ahli waris beragama Islam, muwarrisnya beragama Kristen, atau sebaliknya.

3. “Perbudakan” menjadi penghalangan mewarisi, bukanlah karena status kemanusiaannya, tetapi semata-mata karena status formal nya sebagai hamba sahaya (budak).Seorang budak tehalang untuk menerima warisan karena ia dianggap tidak cakap melakukan hukum.

4. “Berlainan agama” pengertian negara adalah suatu wilayah yang ditempati suatu bangsa yang memiliki angkatan bersenjata sendiri, kepala negara tersendiri, dan memiliki kedaulatan sendiri dan tidak ada ikatan kekuasaan dengan negara asing . Maka dalam konterks ini, negara bagian tidak dapat dikatakan sebagai negara yang berdiri sendiri, karena kekuasaan berada di negara federal.

Adapun berlainan negara yang menjadi penghalang mewarisi adalah apabila diantara ahli waris dan muwarrisnya berdomisili di dua negara yang berbeda kriterianya seperti tersebut diatas.

Apabila dua negara sama-sama muslim, menurut para ulama, tidak menjadi penghalang mewarisi. Malahan, mayoritas ulama mengatakan, meskipun negaranya berbeda, apabila antara para ahli waris dan muwarrisnya non muslim, tidak berhalangan bagi mereka untuk saling mewarisi.

BAB : III
III. AHLI WARIS DAN MACAM-MACAMNYA.
Kata ahli waris yang secara bahasa berarti keluarga, tidak otomatis ia dapat mewarisi harta peninggalan saudaranya yang meninggal dunia. Ada dua macam ahli waris, yitu :

1. Ahli waris nasabiah, karena hubungan darah
2. Ahli waris sababiyah, timbul karena:
– Perkawinan yang sah (al-musaharah),
– Memerdekakan hamba sahaya (al-wala’) atau karena perjanjian tolong-menolong.

Apabila dilihat dari segi bagian-bagian yang diterima, dapat dibedakan kepada.:

1. Ahli waris ashab al-furud, yitu ahli waris yang menerima bagian yang telah ditentukan besar kecilnya, seperti ½, 1/3,atau 1/6.
2. Ahli waris assabah , yaitu ahli waris yang menerima sisa setelah harta dibagikan kepada ahli waris ashab al-furud.
3. Ahli waris zawi al-arham, yaitu ahli waris karena hubungan darah ,tetapi menurut ketentuan al-quran tidak berhak menerima warisan.

a. Ahli waris ashab al-furud dan hak-haknya.
Pada penjelasan di bawah ini tidak dipisahkan lagi antara ahli waris nasabiah dan sababiah. Pertimbanganya mereka sama-sama sebagai ashab al-furud.
Pada umumnya ahli waris ashab al-furud adalah perempuan, sementara ahli waris laki-laki yang menerima bagian tertentu adalah bapak, kakek, dan suami. Selain itu, menerima bagian sisa (‘asabah).

Adapun hak-hak yang diterima ahli waris ashab al-furud adalah :
1. Anak perempuan, berhak menerima bagian :
1/2 jika sendirian tidak bersama anak laki-laki
2/3 jika dua orang atau lebih tidak bersama anak laki-laki

2. Cucu perempuan garis laki-laki, berhak menerima :
1/2 jika sendirian, tidak bersama cucu laki-laki dan tidak mahjub (terhalang).
2/3 jika dua orang atau lebih, tidak bersama cucu laki-laki dan tidak mahjub.
1/6 sebagai pelengakap 2/3 jika bersama seorang anak perempuan, tidak ada cucu laki-laki dan tidak mahjub. Jika anak perempuan 2 orang atau lebih ia tidak mendapat bagian.

3. Ibu, berhak menerima bagian :
1/3 jika ada anak atau cucu (far’u waris) atau saudara dua orang atau lebih.
1/6 jika ada far’u waris atau bersama dua orang saudara atau lebih
1/3 x sisa, dalam masalah garrawain, yaitu apabila ahli waris terdiri dari : suami/istri, ibu dan bapak.

4. Bapak berhak menerima bagian :
1/6 jika ada anak laki-laki atau cucu laki-laki
1/6+sisa, jika bersama anak perempuan atau cucu perempuan garis laki-laki.
Jika bapak bersama ibu :
– masing-masing 1/6 jika ada anak, cucu atau saudara dua orang atau lebih.
– 1/3 untuk ibu, bapak menerima sisanya, jika tidak ada anak, cucu atau
saudara dua orang lebih.
– ibu menerima 1/3 sisa, bapak sisanya setelah diambil untuk suami atau isteri.

5. Nenek jika tidak mahjub berhak menerima bagian :
1/6 jika seorang
1/6 dibagi rata, apabila nenek lebih dari 2 orang dan sederajat kedudukanya.

6. Kakek, jika tidak mahjub, berhak menerima bagian :
1/6 jika bersama anak laki-laki atau cucu laki-laki
1/6+sisa, jika bersama anak atau cucu perempuan tanpa ada anak laki-laki.

1/6 atau muqasamah (bagi rata) dengan saudara sekandung atau seayah, setelah diambil untuk ahli waris lain
1/3 atau muqasamah bersama saudara sekandung atau seayah, jika tidak ada ahli waris lain.

7. Saudara perempuan sekandung, jika tidak mahjub, berhak menerima bagian : 1/2 jika seorang, dan tidak bersama saudara laki-laki sekandung.
2/3 dua orang atau lebih, tidak bersama saudara laki-laki sekandung.

8. Saudara perempuan seayah, jika tidak mahjub, berhak menerima bagian :
1/2 seorang diri dan tidak bersama saudara laki-laki seayah
2/3 dua orang atau lebih tidak bersama saudara laki-laki seayah
1/6 jika bersama dengan saudara perempuan sekandung seorang, sebagai pelengkap 2/3.

9. Saudara seibu, baik laki-laki atau perempuan kedudukanya sama. Apabila tidak mahjub, saudara seibu berhak menerima bagian :
1/6 jika seorang diri
1/3 dua orang atau lebih
Bergabung menerima 1/3 dengan saudara sekandung, ketika bersama-sama dengan ahli waris suami dan ibu (musyarakah).

10. Suami, berhak menerima bagian :
1/2 jika tidak mempunyai anak atau cucu
1/8 jika bersama anak dan cucu

Jika seluruh ahli waris ada, tidak semua menerima bagian karena yang dekat menghijab yang jauh. Ahli waris yang dapat menerima bagian adalah :

– anak perempuan 1/2
– cucu perempuan 1/6
– ibu 1/6
– bapak 1/6 + sisa
– isteri/suami 1/8 / 1/4 .

b Ahli Waris Nasabiyah
Ahli waris nasabiyah adalah ahli waris yang pertalian kekerabatannya kepada muwarris berdasarkan hubungan darah.Ahli waris nasabiyah ini terdiri dari 13 orang laki-laki dan 8 orang perempuan.

Ahli waris laki-laki, berdasarkan urutan kelompoknya sebagai berikut.
1. Anak laki-laki (al-ibn)
2. Cucu laki-laki garis laki-laki (ibn al-ibn) dan seterusnya kebawah.
3. Bapak (al-ab)
4. Kakek dari bapak (al-jadd min jihat al-ab)
5. Saudara laki-laki sekandung (al-akh al-syaqqiq)
6. Saudara laki-laki seayah (al-akh li al-ab)
7. Saudara laki-laki seibu (al-akh li al-umm)
8. Anak laki-laki saudara lak-laki sekandung (ibn al-akh al-syaqiq)
9. Anak laki-laki saudara laki-laki seayah (ibnal-akh li al-ab)
10. Paman, saudara bapak sekandung (al-amm al-syaqiq)
11. Paman seayah (al-amm li al- ab)
12. Anak laki-laki paman sekandung (ibn al-amm al-syaqiq)
13. Anak laki-laki paman seayah (ibn al-amm li al-ab)

Adapun ahli waris perempuan semuanya ada 8 orang, yang rinciannya sebagai berikut:
1. Anak perempuan (al-bint)
2. Cucu perempuan garis laki-laki (bint al-ibn)
3. Ibu (al-umm)
4. Nenek garis bapak (al-jaddah min jihat al-ab)
5. Nenek garis ibu (al-jaddah min jihat al-umm)
6. Saudara perempuan sekandung (al- ukht al-syaqiqah)
7. Saudara perempuan seayah (al-ukht li al-ab)
8. Saudara perempuan seibu (al-ukht al-umm)

Adapun ahli waris perempuan semuanya 8 orang, yang rinciannya sebagai berikut:
1. Anak perempuan (al-bint)
2. Cucu perempuan garis laki-laki (bint al-ibn)
3. Ibu (al-umm)
4. Nenek garis bapak (al-jaddah min jihat al-ab)
5. Nenek garis ibu (al-jaddah min jihat al-umm)
6. Saudara perempuan sekandung (al-ukht al-syaqiqah )
7. Saudara perempuan seayah (al-ukht li al-ab)
8. Saudara perempuan seibu (al-ukht li al-umm).

BAB : IV
IV. HARTA WARISAN ANAK YANG MASIH DIDALAM KANDUNGAN Di dalam Islam, bayi yang masih dalam kandungan ibunya, jika pewarisnya meninggal dunia termasuk ahli waris yang berhak menerima warisan, sama seperti ahli waris lainnya. Namun demikian karena masih dalam kandungan, belum bisa dipastikan bahwa akan lahir hidup atau mati. Begitu pula belum diketahui secara persis jenis kelaminnya.Untuk menentukan beberapa bagian yang diterimanya.

a. Batas Minimal dan Maksimal Usia Kandungan
Para ulama sepakat bahwa batas usia minimal usia bayi didalam kandungan adalah 6 bulan dihitung dari saat akad nikah dilangsungkan .
Oleh karena itu apabila bayi lahir kurang dari batas waktu 6 (enam) bulan, tidak bisa dihubungkan kekerabatannya kepada bapaknya. Status digolongkan sebagai anak zina.Praktis sibayi hanya bisa dinasabkan kepada ibunya saja.

Pendapat lain mengatakan bahwa batas minimal usia bayi di dalam kandungan adalah adalah 9 (sembilan ) bulan Qamaiyah (  270 hari). Ini adalah pendapat Ibn al-Human dan sebagian ulama Hanabillah, yang diikuti oleh undang-undang warisan Mesir.

Hukum Adat di Indonesia, terutama didaerah-daerah yang tidak dipengaruhi hukum Islam, tidak begitu dipermasalahkan usia kandungan.Sepanjang anak itu lahir dalam ikatan perkawinan yang sah.

Jadi ada perbedaan yang sangat prinsipil antara hukum Islam dan hukum adat dibeberapa lingkungan hukum Indonesia.Namun demikian, apakah dalam kenyataan sekarang hukum tersebut masih bisa diterima masyarakat atau bahkan diperlonggar lagi, perlu penelitian sendiri. Boleh jadi kenyataan demikian pengaruh langsung dari hukum produk pemikiran Barat, melalui KUHP (Kitab Undang Hukum Pidana) KUH Perdata , dan lain-lain.

Adapun batas maksimal usia bayi didalam kandungan, para ulama berbeda berpendapat. Batasan ini dihitung dari putusnya perkawinan sampai dengan kelahiran anak.Karena usaha mengetahui batas maksimal usia bayi dalam kandungan tersebut dimaksudkan untuk menentukkan nasabnya kepada siapa dihubungkan. Para ulama berbeda pendapat dalam menetapkan batas waktu maksimal usia bayi dalam

kandungan .Ada yang menetapkan satu tahun qamaryah, ada yang satu tahun syamsyah, 2 tahun, 3 tahun, dan 5 tahun.

b. Harta Warisan Orang Banci (KHUNSA AL- MUSYKIL)
Khunsa dari akar kata al-khans jamaknya khunasa artinya lembut atau pecah.Yang dimaksud khunsa secara terminologis adalah orang yang memiliki alat kelamin laki-lakui dan perempuan sekaligus, atau tidak memiliki alat kelamin sama sekali. Muslich Maruzi mendefenisikan, khunsa adalah orang yang diragukan jenis kelaminnya apakah ia laki-laki atau perempuan. Karena kalau menyebut banci adalah wadam (wanita adam) atau waria (wanita-pria) atau gay. Sebenarnya istilah wadam dan waria tidak mesti identik (sama) yang dimaksud khunsa al musykil. Karena penyebutan wadam atau waria, asosiasinya mungkin secara fisik adalah laki-laki, mungkin secara kejiwaan atau mungkin hormontal penampilannya perempuan.Sementara khunsa al-musykil memang tidak jelas kelaminnya, baik karena berkelamin ganda atau tidak berkelamin sama sekali.

Pada dasarnya untuk menentukan berapa bagian yang harus diterima oleh orang banci, apabila dimungkinkan adalah mencari kejelasan jenis kelaminnya. Tetapi apabila sulit menentukannya, para ulama sepakat bahwa didalam menentukan status hukumnya, indikasi fisiklah yang dipedomani, bukan gejala-gejala psikisnya

Cara lain yang bisa ditempuh adalah meneliti tanda-tanda kedewasaannya, karena antara laki-laki dan perempuan apabila sudah mulai tumbuh dewasa terdapat perbedaan ciri-ciri yang menonjol.Misalnya tumbuh kumis, jenggot, buah tenggorokan, suaranya besar jika laki-laki.Atau buah dadanya menonjol, tidak berkumis, dan lain-lain jika perempuan.

Sekiranya tanda-tanda tersebut dapat diketahui dengan jelas, maka dapat digolongkan kepada khunsa ghoiru musykil.Maka untuk menentukan bagian warisannya cukup dilakukan menurut alat atau jenis kelamin yang diketahui tersebut.

C. Harta Warisan Non-Muslim Dan Orang Yang Murtad
Penghalang warisan diantaranya berlainan agama. Mayoritas ulama berpendapat bahwa sepanjang ada perbedaan agama antara muwarris dan ahli warisnya antara muslim dan non muslim maka mereka terhalang untuk saling mewarisi.Atas dasar dalil ayat dan hadis dapat ditegaskan bahwa harta warisan orang-orang muslim dan orang-orang yang murtad, tidak bisa diwarisi oleh saudaranya yang muslim (meskipun diantara mereka berbeda agama, seperti Katolik dan Protestan, Hindu dan Budha, atau Katolik dan Budha).

Bagi orang yang murtad, para ulama dengan tegas menyatakan bahwa harta warisan mereka tidak bisa diwariskan oleh siapapun, termasuk ahli waris mereka yang sama-sama murtad.Harta peninggalannya menjadi harta fai’ yang diserahkan ke bait al-mal untuk kepentingan umum.Hal ini karena orang murtad telah memutuskan silah syariah kepada ahli waris.

BAB V
KESIMPULAN
Jadi, seperti yang telah kita ketahui bersama, bahwa hukum waris diIndonesia masih beraneka warna coraknya, dimana tiap-tiap golongan penduduk termasuk kepada hukumnya masing-masing, antara lain hal ini dapat dilihat dari golongan masyarakat yang beragama Islam kepadanya diberlakukan hukum kewarisan Islam, baik mengenai tata cara pembagian antara anak laki-laki dan anak perempuan, anak angkat, lembaga peradilan yang berhak memeriksa dan memutuskan sengketa warisan apabila terjadi perselisihan diantara ahli waris dan lain sebagainya.

Untuk golongan masyarakat non muslim, mereka tunduk dan taat kepada hukum adat masing-masing dimana sisi dipengaruhi oleh unsur-unsur agama dan kepercayaan.Begitu juga terhadap golongan eropa dan yang dipersamakan dengan mereka, aturan tentang hukum waris ini aspirasinya separuhnya diserahkan kepada hukum perdata eropa (Kitab Undang-Undang Hukum Perdata).

DAFTAR PUSTAKA
Fatcthur Rahman, Ilmu Waris, Bandung: Al-Ma’rif, 1981.
Al-fanary, khasyyah syarh al-sirajiyah, Kairo: tp.tt.

Rofiq Ahmad, fiqih mawaris,Jakarta:PT Raja Grafindo Persada,1998

http://www.jessitaputridhiary.wordpress.com

Published in: on Oktober 25, 2010 at 2:41 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

MAWARIS 2

MAWARIS

 

A. Pengertian Ilmu Mawaris
Kata Al Mawarits adalah jamak dari kata Mirots, yaitu harta peninggalan dari orang yang meninggal untuk ahli warisnya.
Orang yang meninggalkan harta tersebut dinamakan Al Muwaaritsu, sedang ahli waris disebut dengan Al-Warits. Al Faraidh adalah kata jamak bagi al fariidhoh artinya bagian yang ditentukan kadarnya. Perkataan Al-Fardhu, sebagai suku kata dari lafad fariidhoh.Fara’idh dalam arti mawaris, hukum waris mewaris. Dimaksud sebagai bagian atau ketentuan yang diperoleh oleh ahli waris menurut ketentuan syara’.

Ilmu Fara’idh dapat didefiniskan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang ketentuan-ketentuan harta pusaka bagi ahli waris.
Definisi inipun berlaku juga bagi Ilmu Mawarits, sebab ilmu mawarits adalah nama lain bagi Ilmu Fara’idh.
Untuk mengetahui siapa-siapa yang memperoleh harta waris, maka perlu diteliti terlebih dahulu ahli-ahli waris yang ditinggalkan. Akemudian baru ditetapkan, siapa diantara mereka yang mendapat bagian dan yang tidak mendapat bagian.

Sumber hukum Islam tentang waris adalah asal hukum islam tentang waris. Sumber Hukum Islam tersebut adalah :
1. Al Qur’an
2. As Sunah
3. Ijma’
4. ijtihad
.
A. Hukum Mempelajari dan Mengajarkan Ilmu Fara’idh Serta Kepentingannya Dalam Pembinaan Keluarga

Hukum mempelajari Ilmu Fara’idh adalah fardhu kifayah, artinya bila sudah ada satu orang yang mempelajarinya maka gugurlh kewajiban itu bagi orang lain. Begitu juga dalam mengajarkannya. Begitu pentingnya Ilm Fara’idh, smpai dikatakan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai separoh ilmu. Disamping itu oleh Beliau diingatkan bahwa ilmu inilah yang pertama kali akan dicabut. Artinya, pada kenyataannya hingga sekarang tidak banyak orang yang mempelajari Ilmu Fara’idh, karene memang sukar dan dikhawatirkan Ilmu ini lama kelamaan akan lenyap juga, karena sedikit yang mempelajarinya . Lebih-lebih apabila orang akan membagi harta warisannya berdsarkan kebijaksanaan-kebijaksanaan dan tidak berdasarkan hukum Alloh SWT.
Nabi Muhammad SAW bersabda :

Artinya : “Pelajarilah Al-Fara’idh dan ajarkanlah ia kepada orang-orang. Sesungguhnya ilmu fara’idh itu separoh ilmu, dan iapun akan dilupakan serta iapun merupakan ilmu yang pertama kali akan dicabut di kalangan umatku. (HR. Ibnu Majah dan Ad Daruquthniy).

Masalah harta peninggalan biasanya menjadi sumber sengketa dalam keluarga. Terutama apabila menentukan siapa yang berhak dan siapa yang tidak berhak menerima. Dan juga seberapa banyak haknya. Hal ini mnimbulkan perselisihan dan akhirnya menimbulkan keretakan kekeluargaan. Orang ingin berlaku seadil-adilnya, tetepi belum tentu orang lain menganggap adil.
Oleh karena itu, didalam Islam memberikan ketentuan-ketentuan yang konkret mengenai hak waris. Sehingga apabila dilandasi ketaqwaan kepada Alloh SWT semuanya akan berjalan lancar dan tidak akan menimbulkan sengketa, bahkan kerukunan keluargapun akan tercapai. Ketentuan dari Alloh SWT itu sudah pasti. Bagian-bagian dari siapa yang mendapatkan sudah ditentukan . Semua kebijaksanaan dalam hal ini adalah dari Alloh SWT. Disamping itu, adalah kewajiban umat Islam untuk mengetahui ketentuan-ketentuan yang telah diberikan oleh Alloh SWT.
Nabi Muhammad SAW bersabda :

Artinya :”Bagilah harta benda diantara ahli-ahli waris menurut Kitabulloh. (HR. Muslim Dan Abu Dawud).
Disamping itu Alloh berfirman :

Artinya : “ Dan siapa yang melanggar Alloh dan Rosul-Nya melampaui batas ketentuannya, Alloh akan memasukannya kedalam api neraka, ia kekal disitu, dan iapun mendapatkan siksa yang menghinakan. (QS. An-Nisa : 14).

Dengan demikian semuanya termasuk apabila terdapat perselisihan, di kembalikan kepada Alloh SWT dan Rosul-Nya. Sehingga tidak ada celah-celah untuk saling sengketa dan bertengkar. Dan karena itu kekeluargaan dan hubungan kefamilian tetap terbina dengan baik serta rukun dan tenteram. Di dalam hal ini, Islam memberikan prinsip-prinsip antara lain :
1) Kepentingan dan keinginan orang yang meninggal (yang semula memiliki harta benda) diperhatikan selayaknya, dengan memberikan hak wasiat, biaya pemakaman dan sebagainya.
2) kepentingan keluargayang ditinggal. Terutama anak cucu mendapatkan perhatian lebih banyak, juga ayah ibu, disamping anggota keluarga yang lain. Seimbang dengan jauh dekatnya hubungan keluarga.
3) Keseimbangan kebutuhan nyata dan rata-rata dari tiap-tiap ahli waris mendapat perhatian yang seimbang pula, ahli waris pria yang nyatanya memerlukan lebih banyak biaya hidup bagi diri dan keluarganya mendapat bagian lebih banyak dari ahli waris wanita.
4) Beberapa hal yang berhubungan dengan kesalahan-kesalahan ahli waris dan yang berhubungan dengan itikad keagamaan, bisa menimbulkan akibat hilangnya hak waris, umpamanya pembunuhan, perbedaan agama dan sebagainya.
Prinsip-prinsip tersebut dibuat dengan maksud :
a) Harta benda yang merupakan Rahmat Alloh itu diatur menurut ajaran-Nya.
b) Harta benda yang didapat dengan susah payah oleh almarhum tidak menimbulkan percekcokan keluarga yang hanya tinggal menerima saja.
c) Harta benda itu dapat dimanfaatkan dengan tenang, tenteram, sesuai dengan tuntunan Alloh SWT.

Jadi, hukum waris harus dilaksanakan, kecuali kalau semua ahli waris sepakat dengan sukarela untuk membagi harta warisan berdasarkan kebijaksanaan-kebijaksanaan tidak dengan maksud untuk menentang hukum Alloh SWT, tetapi ada sebab-sebab lain, misalnya : harta waris diberikan kepada Ibu yang sudah tua dengan bagian terbanyak, dan sebagainya. Meskipun demikian, Islam tidak menutup pintu perdamaian antara seluruh ahli waris yang secara sepakat untuk mengatur pembagian harta warisan berdasarkan kebijaksanaan-kebijaksanaan. Juga setiap ahli waris berhak meminta atau menerima pembagian harta waris karena kesukarelaannya sendiri.

Pembagian harta warisan dalam masyarakat jahiliyah (sebelum Islam dating) didasarkan atas nasab dan kekerabatan. Dan itu hanya diberikan kepada keluarga yang laki-laki saja, yaitu lelaki yang sudah dapat memanggul senjata untuk mempertahankan kehormatan keluarga, dan melakukan peperangan serta merampas harta peperangan. Orang-orang perempuan dan anak-anak tidak mendapat warisan. Bahkan orang-orang perempuan, yaiti isteri ayah atau isteri saudara dijadikan harta pusaka. Kekerabatan lelaki inilah yang menjadi syarat bagi waris-mewaris dizaman jahiliyah. Termasuk janji atau pengangkatan bersaudara dan juga pengangkatan anak.

Orang yang telah melakukan perjanjian, apabila salah seorang meninggal, yang hidup berhak seperenam dari harta pusakanya, dan baru sisany adibagi diantara ahli warisnya. Orang mewarisi berdasarkan janji inipun adalah orang laki-laki. Sama seperti waris-mewaris dikalangan kerabat sendiri. Waris-mewaris dari persaudaraan yang seperti itu hanya untuk lelaki dan apabila sudah dewasa. Pengangkatan anak berlaku dikalangan jahiliyah. dan apabila sudah dewasa, si anak angkat mempunyai hak sepenuh-penuhnya sebagaimana disyaratkan oleh bapak yang mengangkatnya. Dan karena itu apabila ba[pak angkat meninggal, maka anak ankat mempunyai hak mawaris sepenuhpenuhnya atas harta benda bapak angkatnya.

Pengangkatan anak pernah terjadi pada Nabi Muhammad SAW. Mengangkat Zaid bin Muhammad, sebagai anak angkatnya setelah ia dibebaskan dari perbudakan. Karena angnkatnya dianggap sama dengan anak kandung, pada saat itu penisbatananak angkat tidak pada ayah yang sebenarnya, tetapi kepada ayah angkatnya. Itu sebabnya tidak disebut Zaid bi Harits, tetapi Zaid bin Muhammad. Tetapi didalam perkembangannya, masalah pengangkatan anak ini dihapus oleh Islam dan pengangkatan anak tidak menyebabkan si anak angkat berkedudukan sebagai anak kandung. Ia tetap sebagai orang lain.

C. Rukun kewarisan, sebab-sebab kewarisan dan penghalang-penghalang kewarisan
a. Rukun-rukun waris
Rukun-rukun waris itu ada tiga :
1) Muwarrits
Yaitu orang yang mewariskan dan meninggal dunia. Baik meninggal dunia secara hakiki, atau akarena keputusan hakim dinyatakan mati berdasarkan beberapa sebab.
2) Mauruts
Yaitu harta peninggalan si mati yang akan dipusakai setelah dikurangi biaya perawatan , hutang-hutang, zakat dan setelah digunakan untuk melaksanakan wasiat. Harta pusaka disebut juga Mirots, Irts, Turots Dan Tarikah.
3) Warits
Yaitu orang yang akan mewarisi, yang akan mempunyai hubungan dengan si Muwarits, baik hubungan itu karena hubungan itu kekeluargaan atau perkawinan.
Mengenai rukun kewarisan, ada yang memerlukan penjelasan yang rinci, sehingga memudahkan memahami uraian selanjutnya.

Mauruts (tirkah, tarikah, warisan) ialah sesuatu yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal dunia, yang dibenarkan dipusakai menurut ketentuan Hukm Islam. Harta peninggalan itu harus dipahami dengan pengertian yang luas. Didalamnya tercakup :

1. harta benda yang mempunyai nilai kebendaan
kedalam kelompok ini termasuk benda-benda yang tetap, benda-benda bergerak, piutang-piutang Orang yang meninggal, surat-surat berharga, dan lain-lain yang dipandang sah menjadi miliknya.

2. hak-hak kebendaan kedalam
kedalam kelompok ini termasuk hak monopoli untuk memungut hasil dari jalan lalu lintas, sumber air minum dan lain-lainnya.

3. Benda-benda yang ada ditangan orang lain
Termasuk kedalam kelompok ini ialah seperti, barang gadaian dan barang yang sudah dibeli dari orang lain tetapi belum diserah terimaan kepada orang yang sudah meninggal itu.

4. Hak-hak yang bukan benda
Termasuk kedalam kelompok adalah seperti hak syuf’ah (hak beli yang diutamakan bagi tetangga, serikat) dan memanfaatkan barang yang diwasiatkan atau yang diwakafkan.

Mengenai harta warisan ini, para ulama berbeda pendapat dalam memberi takrif (definisinya).
a. Fuqaha Hanafiyah
Dikalangan Fuqaha hanafiyah sendiri ada tiga pendapat :
1) Sebagian mereka berpendapat, bahwa harta peninggalan itu tidak mempunyai ha dengan orang lain. Dengan demikian, harta warisan menurut kelompok ini hanya kelompok harta benda yang mempunyai nilai kebendaan dan hak-hak kebendaan.
2) Sebagian mereka berpendapat bahwa harta warisan itu adalah sisa harta sesudah diambil biaya perawatan, jenazah dan pelunasan hutang.
3) Sebagian mereka berpendapat, bahwa harta warisa itu diartikan secara mutlak, yaitu apa saja yang dianggap menjadi milik orang yang meninggal itu.
b. Ibnu Hazm
Ibnu Hazm berpendapat bahwa harta yang dapat dijadikan warisan hanya harta benda saja, tidak termasuk hak-hak dari orang yang maeninggal itu.
c. Fuqaha Malikiyah, Syafi’iyah dan Hanbaliyah
Ulama-ulama tersebut berpendapat bahwa semua peninggalan, baik berupa benda maupun bukan benda termasuk kedalam tirkah atau warisan.

b. Sebab-sebab kewarisan
Seseorng tidak mendapatkan warisan kecual karena salah satu sebab dari sebab-sebab berikut ini :
1) Nasab
Yaitu kekerabatan. Artinya, Ahli waris ialahayah dari pihak yang diwarisi atau anak-anaknya. Dan jalur sampingnya seperti saudara-saudara beserta anak-anak mereka dan paman-paman dari jalur ayah beserta anak-anak mereka, jarena Alloh SWT berfirman yang artinya : “ Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib kerabat, Kami menjadikan pewaris-pewarisnya.” (QS. An-Nisa : 33).

2) Pernikahan
Yaitu akad yang benar terhadap isteri, kendati suaminya belum menggauli dan belum berduaan dengannya. Karena Alloh SWT berfirman yang artinya : “Dan bagi kalian (suami-suami) seperdua dari harta yang ditingalkan oleh isteri-isteri kalian.” (QS. An-Nisa : 12)

3) Wala’
Yaitu seseorang memerdekakan budak laki-laki atau perempuan. Dan dengan ia memerdekakannya, maka kekerabatan budak tersebut menjadi miliknya. Jadi, jika budak yang ia merdekakan meninggal dunia tanpa meninggalkan ahli waris, maka hartyanya diwariskan kepada orang yang memerdekakannya. Karena Rosululloh SAW bersabda :

“Wala’ itu milik orang yang memerdekakannya.” (Muttafaq‘Alaih).
D. Penghalang-Penghalang Warisan
Bisa jadi, sebab-sebab warisan itu ada, namun sebab-sebab tersebut dihalang-halangi oleh penghalang hingga seseorang tidak dapat mewarisi dri pihak lain.
Penghalang-penghalang warisan tersebut adalah :
1) Kekafiran
Kerabat yang Muslim tidak bias mewarisi orang kafir dan orang kafir tidak bias mewarisi kerabat yang Muslim. Rosululloh bersabda :

“Orang kafir tidak bisa mewarisi orang Muslim dan orang Muslim tidak bisa mewarisi orang kafir.” (Muttafaq ‘Alaih).

2) Pembunuhan
Pembunuh tidak bisa mewarisi orang yang dibunuhnya sebagai hukuman atas pembunuhannya tersebut. Dan itu jika pembunhan tersebut dilakukan dengan sengaja. Rosululloh SAW bersabda :

“Pembunuh tidak berhak atas sesuatu apapun dari harta peninggalan orang yang dibunuhnya.” (Diriwayatkan Ibnu Abdilbar dan Ia menshahihkannya)

Menurut ulama Hanafiyah, pembunuhan yang menghalangi memperoleh harta warisan adalah pembunuhan yang bersanksi Qishas dan yang bersanksi kaffaroh.
Pembunuhan yang bersanksi Qishas ialah pembunuhan yang dilakukan dengan sengaja untuk membunuh dengan mempergunakan alat-alat yang mematikan.
Alloh berfirman :

Artinya : “ Wahai orang-orang yang beriman, Alloh telah menentukan kepadamu sekalian dipidana dengan Qishas atau pembunuhan………. (QS. Al Baqoroh :178).

Alloh juga berfirman :

Artinya : “Siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, balasannya adalah neraka jahanam, kekal disana. (QS. An Nisa : 93 ).
Adapun pembunuhan bersanksi kaffaroh ialah pembunuhanyang dipidana berupa membebaskan budak yang islam atau berpuasa selama dua bulan berturut-turut.
Pembunuhan yang bersanksi kaffaroh ada tiga macam :
 Syibhul ‘amdi (serupa atau mirip dengan sengaja).
 Qatlul Khoto’i (membunuh karena keliru).
 Al-Jari majrol Khoto’i (membunuh yang dianggap keliru).
Ulama Syafi’iyah berpendapat tidak membeda-bedakan antara penbunuh dengan sengaja atau tidak sengaja sebagai penghalang memperoleh warisan. Segala macam pembunuhan dianggap sebagai penghalang untuk memperoleh warisa. Bahkan apabila si pembunuh lantaran melakukan tugas Qishas dan kepala Negara melakukan tugas itu, hakim yang memutuskan pidana mati, saksi yag menjadi saksi dan lantaran kesaksiannya terjadi pelenyepan nyawa seseorang. Semua keadaan dan perbuatan terssebut menjadi penghalang untuk memperoleh harta warisan.

Menurut Ulama Hanbaliyah, semua pembunuhan yang mengakibatkan Qishas seperti pembunuhan yang disengaja dan pembunuhan yang menyebabkan diyat, seperti pembunuhan yang tidak disengaja dan serupa dengan sengaja. Demikian juga pembunuhan yang menyebabkan kaffaroh, seperti pembunuhan keluarga muslim yang berjuang dalam barisan orang kafir yang menjadi musuh perang umat islam tanpa diketahui kalau mereka itu muslim, semua itu menghalangi untuk memperoleh warisan. Sedang pembunuhan yang tidak menyebabkan sesuatu seperti pembunuhan yang dibenarkan oleh agama, tidaklah menghalangi untuk memperoleh harta warisan.

Sedangkan menurut Ulama Malikiyah hanya mengenal dua macam pembunuhan. Yaitu pembunuhan yang disengaja dan yang tidak disengaja. Apabila si pembunuh berniat membunuh, pembunuhan itu dikategorikan yang disengaja. Dan apabila tidak dimaksud untuk membunuh, pembunuhan itu yang tidak disengaja. Jadi, maksud dan niat itulah yang penting. Tidak peduli apakah pembunuhan itu langsung atau tidak langsung (tasabbub), oleh orang yang berakaal maupun gila, dan ssebagainya. Asal memang ada maksud, tentulah itu pembunuhan yang disengaja.

Pembunuhan yang sengaja itu menghalangi seseorang untuk memperolah harta wariasan. Dan pembunuhan tidak langsung, asal itu sudah ada niat juga menjadi penghalang untuk memperolah warisan.

3) Perbudakan
Budak tidak bisa mewarisi dan tidak bisa diwarisi. Baik itu budak sempurna atau orang yang diperbudak sebagian seperti budak Mukatib (budak yang dalam proses kemerdekaan dirinya dengan membayar sejumlah uang kepada pemiliknya), atau ibu dari anak majikan (karena majikan menggauli budak wanita tersebut hingga melahirkan anak), karena mereka semua dalam cakupan perbudakan. Sebagian ulama mengecualikan orang yang diperbudak sebagian bahwa ia bisa mewarisi dan bisa diwarisi sesuai dengan kemerdekaan yang dimilikinya, berdasarkan hadits dari Abdulloh bin Al-Abbas RA bahwa Rosululloh SAW bersabda tentang budak yang dimerdekakan sebagiannya.

“Ia berhak mewarisi dan siwarisi sesuai dengan apa yang telah dimerdekakan darinya.”

4) Zina
Hasil zina tidak bisa mewarisi ayahnya dan tidak bisa diwarisi ayahnya. Ia hanya bisa mewarisi Ibunya dan diwarisi ibunya. Rosululloh SAW bersabda :

“Anak itu milik ranjang (maksudnya pemilik ranjang, yaitu suami) dan pezina berhak atas kerugian.” (Muttafaq Alaih)

5) Li’an
Anak suami-isteri yang mengadakan Li’an itu tidak bisa mewarisi ayah yang tidak mengakuinya sebagai anak dan ayahnya juga tidak bisa mewarisinya. Ini diqiyaskan dengan anak hasil zina.
6) Tidak menangis waktu lahir
Anak yang dilahirkan ibunya dalam keadaan meninggal dunia dan tidak bisa menangis ketika lahir itu tidak bisa mewarisi dan tidak bisa diwarisi, karena tidak ada kehidupan yang disusul dengan kehidupan, kemudian warisan terjadi karenanya.

DAFTAR PUSTAKA

Muzadi, Abdul Muchith, Fiqih wanita, Bandung, 1997.
Daradjat, Zakiah. Dkk, Ilmu Fiqih, Yogyakarta, 1995.
Al Jaziri, Abu Bakr Jabir, Ensiklopedi Muslim, Jakarta Timur, 2007.
Hasan, Ali, Hukum Warisan Dalam Islam, Jakarta, 1996.

Published in: on Oktober 25, 2010 at 2:31 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

MAWARIS

Pengertian Mawaris

Islam sebagai ajaran yang universal mengajarkan tentang segala aspek kehidupan manusia,termasuk dalam hal pembagian harta warisan. Islam mengajarkan tentang pembagian harta warisan dengan seadil – adilnya agar harta menjadi halal dan bermanfaat serta tidak menjadi malapetaka bagi keluraga yang ditinggalkannya. Dalam kehidupan di masyaraakat, tidak sedikit terjadi perpecahan, pertikaian, dan pertumpahan darah akibat perebutan harta warisan.

Pembagian harta warisan didalam islam diberikan secara detail, rinci, dan seadil-adilnya agar manusia yang terlibat didalamnya tidak saling bertikai dan bermusuhan. Dengan adanya system pembagian harta warisan tersebut menunjukan bahwa islam adalah agama yang tertertib,teratur dan damai. Pihak-pihak yang berhak menerima warisan dan cara pembagiannya itulah yang perlu kita pelajari pada bab ini.

A. Pengertian Mawaris

Kata mawaris berasal dari kata waris ( bahasa arab ) yang berarti mempusakai harta orang yang sudah meninggal, atau membagi-bagikan harta peninggalan orang yang sudah meninggal kepada ahli warisnya. Ahli waris adalah orang-orang yang mempunyai hak untuk mendapat bagian dari harta peninggalan

orang yang telah meninggal. Ahli waris dapat digolongkan menjadi dua, yaitu ahli waris laki-laki dan ahli waris perempuan ( lihat QS:Al – baqarah : 188 ). Karena sensitif atau rawannya masalah harta warisan itu, maka dalam agama islam ada ilmu faraid, yaitu ilmu yang mempelajari tentang warisan dan perhitungannya. Salah satu dari tujuan ilmu tersebut adalah tidak terjadi perselisihan atau perpecahan.

Ahli waris laki-laki ada 15 orang, yaitu sebagai berikut:

1. Anak laki-laki

2. Cucu laki-laki dari anak laki-laki dan terus kebawah

3. Bapak

4. Kakak dari bapak dan terus keatas

5. Saudara laki-laki sekandung

6. Saudara laki-laki sebapak

7. Saudara laki-laki seibu

8. Anak laki-laki saudara laki-laki kandung

9. Anak laki-laki saudara laki-laki sebapak

10. Paman yang sekandung dengan bapak

11. Paman yang sebapak dengan bapak

12. Anak laki-laki paman yang sekandung dengan bapak

13. Anak laki-laki paman yang sebapak dengan bapak

14. Suami

15. Laki-laki yang memerdekakan si pewaris

( Keterangan no.1 – 13 berdasarkan pertalian darah. Jika lima belas orang itu ada, maka yang dapat menerima hanya tiga, yaitu anak laki-laki, suami, dan bapak ).

Ahli waris perempuan ada 10, yaitu sebagai berikut:

1. Anak perempuan

2. Cucu perempuan dari anak laki-laki

3. Ibu

4. Nenek dari ibu

5. Nenek dari bapak

6. Saudara perempuan kandung

7. Saudara perempuan bapak

8. Saudara perempuan seibu

9. Istri

10. Wanita yang memerdekakan si pewaris

( Keterangan no.1 – 8 berdasarkan pertalian darah. Jika 10 orang itu ada, maka yang berhak mendapat warisan hanya lima orang yaitu, Istri, anak perempuan, ibu, cucu perempuan, dan saudara perempuan kandung )

Jika 25 ahli waris itu ada, maka yang bisa menerimanya hanya lima orang yaitu, suami atau istri, ibu, bapak, anak laki-laki dan anak perempuan.

B. Dalil Tentang Mawaris

1. Ahli waris adalah orang yang berhak menerima warisan sebagaimana yang telah ditetapkan berdasarkan Al Qur’an dan Hadits.

 

 

Artinya:”Bagi orang yang laki-laki ada hak dari harta peninggalan ibu, bapak, dan kerabatnya.baik sedikit maupun banyak menurut bagian yang telah ditetapkan.”( QS. An Nissa:7 )

Selanjutnya lihat pula Qs. An Nissa ayat 11, 12, dan 176.

2. Dari hadits Rasulullah saw, ada yang menerangkan bagian warisan untuk saudara perempuan yang lebih dua orang, bagian nenek dari bapak dan dari ibu serta bagian cucu perempuan dari anak laki – laki dan lain-lain.

Zaid bin sabit adalah sahabat Rasulullah saw.dari kalangan Anshar yang berasal dari suku khajraj. Ia lahir di madinah tahun 11 SH/611M. Ia masuk islam pada tahun pertama hijriyah dan menjadi sekretaris Rasulullah saw. Untuk menulis wahyu yang turun, menulis surat – surat untuk pembesar kaum yahudi serta menjadi penyusun mushaf di masa khalifah Abu Bakar As Siddiq. Ia dikenal sangat ahli dalam ilmu Al Qur’an, tafsir, hadits dan khususnya faraid sehingga dijuluki Ulama masyarakat. Pada masa khalifah Umar bin Khattab dan Usman bin Affan, ia menjabat sebagai mufti ( ahli fatwa ) yang paling berpengaruh dalam bidang faraid, bahwa Rasulullah sendiri pernah bersabda, ”Yang paling ahli dalam ilmu faraid di antara kalian adaah Zaid bin Sabit.”( HR.Ibnu Majah dan Ahmad bin Hambal ). Zaid bin Sabit wafat di Madinah pada tahun 45H/665M.

 

Artinya:” Sesungguhnya hak wali adalah untuk orang yang memerdekakan.”( Muttafakun alaih )

 

Artinya:” Berikan warisan kepada orang-orang yang berhak menerimanya dan sisanya untuk orang laki-laki yang paling berhak.”( Muttafakun alaih )

 

Artinya:” Sesungguhnya Allah telah memberi hak kepada orang yang memiliki hak dan tidak ada wasiat untuk ahli waris.”( HR.Abu Daud )

C. Ketentuan Hukum Islam Tentang Mawaris

Berdasarkan ketentuan perolehan atau bagian dari harta warisan, ahli waris dapat dikatagorikan menjadi 2 golongan,yaitu sebagai berikut :

1. Zawil Furud

Zawil Furud adalah ahli waris yang perolehan harta warisannya sudah ditentukan oleh dalil Al Quran dan Hadits (lihat QS.An Nissa:11, 12, dan 176). Dari ayat Al Qur’an tersebut, dapat diuraikan orang yang mendapat seperdua, seperempat, dan seterusnya.

A. Ahli waris yang mendapat ½ , yaitu sebagai berikut:

1). Anak pempuan tunggal

2). Cucu perempuan tunggal dari anak laki-laki

3). Saudara perempuan tunggal yang sekandung

4). Saudara perempuan tunggal yang sebapak apabila saudara perempuan yang sekandung tidak ada

5). Suami apabila istrinya tidak mempunyai anak, atau cucu (laki-laki ataupun perempuan) dari anak laki-laki

B. Ahli waris yang mendapat 1/4, yaitu sebagai berikut:

1). Suami apabila istrinya mempunyai anak atau cucu dari anak laki-laki

2). Istri ( seorang atau lebih ) apabila suaminya tidak mempunyai anak atau cucu dari anak laki-laki

C. Ahli waris yang mendapat 1/8, yaitu istri ( seorang atau lebih ) apabila suami mempunyai anak atau cucu dari anak laki-laki

D. Ahli waris yang mendapat 2/3, yaitu sebagai berikut:

1. Dua orang anak perempuan atau lebih apabila tidak ada anak laki-laki ( menurut sebagian besar ulama )

2. Dua orang cucu perempuan atau lebih dari anak laki-laki apabila anak perempuan tidak ada

( diqiyaskan kepada anak perempuan )

3. Dua orang saudara perempuan atau lebih yang sekandung ( seibu sebapak )

4. Dua orang saudara perempuan atau lebih yang sebapak

E. Ahli waris yang mendapat 1/3, yaitu sebagai berikut:

1. Ibu, apabila anaknya yang meninggal tidak mempunyai anak atau cucu, atau dia tidak saudara – saudara ( laki-laki atau perempuan ) yang sekandung, yang sebapak atau yang seibu

2. Dua orang atau lebih ( laki-laki atau perempuan ) yang seibu apabila tidak ada anak atau cucu atau anak

F. Ahli waris yang mendapat 1/6, yaitu sebagai berikut:

1. Ibu, apabila anaknya yang meninggal itu mempunyai cucu ( dari anak laki-laki ) atau mempunyai saudara-saudara( laki-laki atau perempuan ) yang sekandung, yang sebapak atau seibu

2. Bapak, apabila anaknya yang meninggal mempunyai anak atau cucu ( laki-laki atau perempu an ) dari anak laki-laki

3). Nenek ( ibu dari ibu atau ibu dari bapak ). Nenek mendapat 1/6 apabila ibu tidak ada. Jika nenek dari bapak atau ibu masih ada, maka keduanya mendapat bagian yang sama dari bagian yang 1/6 itu

4). Cucu perempuan ( seorang atau lebih ) dari laki-laki apabila orang yang meninggal mempunyai anak tunggal. Akan tetapi, apabila anak perempuan lebih dari seorang, maka cucu perempuan tidak mendapat apa-apa

5). Kakek apabila orang yang meninggal mempunyai anak atau cucu ( dari anak laki-laki ), sedangkan bapaknya tidak ada

6). Seorang saudara ( laki-laki atu perempuan ) yang seibu

7). Saudara perempuan yang sebapak ( seorang atau lebih ) apabila saudaranya yang meninggal itu mempunyai seorang saudara perempuan kandung. Ketentuan pembagian seperti itu dimaksudkan untuk menggenapi jumlah bagian saudara kandung dan saudara sebapak menjadi 2/3 bagian. Apabila saudara kandungnya ada dua orang atau lebih, maka saudara sebapak tidak mendapat bagian

2. Asabah

Asabah adalah ahli waris yang bagian penerimanya tidak ditentukan, tetapi menerima dan menghabiskan sisanya. Apabila yang meninggal itu tidak mempunyai ahli waris yang mendapat bagian tertentu ( zawil furud ), maka harta peninggalan itu semuanya diserahkan kepada asabah. Akan tetapi apabila ada diantara ahli waris yang mendapat bagian tertentu, maka sisanya menjadi bagian asabah yang dibagi menjadi dua macam, yaitu sebagai berikut:

A. Asabah binafsih

Asabah binafsih yaitu asabah yang berhak mendapat semua harta atau semua sisa, diatur menurut susunan sebagai berikut:

1. Anak laki-laki

2. Cucu laki-laki dari anak laki-laki dan terus kebawah asal saja pertaliannya masih terus laki – laki

3. Bapak

4. Kakek ( datuk ) dari pihak bapak dan terus keatas, asal saja pertaliannya belum putus dari pihak bapak

5. Saudara laki – laki sekandung

6. Saudara laki – laki sebapak

7. Anak saudara laki – laki kandung

8. Anak laki – laki kandung

9. Paman yang sekandung dengan bapak

10. Paman yang sebapak dengan bapak

11. Anak laki – laki paman yang sekandung dengan bapak

12. Anak laki – laki paman yang sebapak dengan bapak

Asabah – asabah tersebut dinamakan asabah binafsih, karena mereka langsung menjadi asabah tanpa disebabkan oleh orang lain. Apabila asabah tersebut diatas semuanya ada, maka tidak semua dari mereka mendapat bagian, akan tetapi harus didahulukan orang-orang ( asabah ) yang lebih dekat dengan pertaliannya, dengan orang yang meninggal itu. Jadi, penentuannya diatur menurut nomor urut yang tersebut diatas.

Jika ahli waris yang ditinggalkan itu anak laki-laki dan anak perempuan, maka mereka mengambil semua harta atau semua sisa. Cara pembagiannya ialah untuk anak laki-laki mendapat dua kali lipat bagian anak perempuan.

 

Artinya:”Allah telah menetapkan tentang pembagian harta warisan terhadap anak-anak. Untuk seorang laki-laki sebanyak bagian dua orang perempuan.” ( QS. An Nisa:11 )

B. Asabah Bilgair

Perempuan juga ada yang menjadi asabah dengan ketentuan sebagai berikut:

1. Anak laki-laki dapat menarik saudaranya yang perempuan menjadi asabah dengan ketentuan bahwa untuk laki-laki mendapat dua kali lipat perempuan

2. Cucu laki-laki dari anak laki-laki yang dapat menarik saudaranya yang perempuan menjadi asabah

3. Saudara laki-laki sekandung juga dapat menarik saudaranya yang perempuan menjadi asabah

4. Saudara laki-laki sebapak juga dapat menarik saudaranya yang perempuan menjadi asabah

Keempat macam asabah diatas dinamakan asabah bilgair ( asabah dengan sebab orang lain ). Jika ahli waris yang ditinggalkan dua orang saudara atau lebih, maka cara pembagiannya adalah untuk saudara laki – laki dua kali lipat perempuan( QS.An Nisa:176 )

C. Asabah Ma’algair

Selain daripada yang telah disebutkan sebelumnya, ada dua lagi asabah yang dinamakan asabah ma’algair ( asabah bersama orang lain ). Asabah ini hanya dua macam, yaitu sebagai berikut:

1. Saudara perempuan sekandung apabila ahli warisnya saudara perempuan sekandung ( seorang atau lebih ) dan anak perempuan ( seorang atau lebih ) atau saudara perempuan sekandung dan cucu perempuan ( seorang atau lebih ), maka saudara perempuan menjadi asabah ma’algair. Sesudah ahli waris yang lain mengambil bagian masing-masing, sisanya menjadi bagian saudara perempuan tersebut.

2. Saudara perempuan sebapak apabila ahli saudara perempuan sebapak ( seorang atau lebih ) dan anak perempuan ( seorang atau lebih ), atau saudara perempuan sebapak dan cucu perempuan ( seorang atau lebih ), maka saudara perempuan menjadi asabah ma’algair. Jadi, saudara perempuan sekandung atau sebapak dapat menjadi asabah ma’algair apabila mereka tidak mempunyai saudara laki-laki. Akan tetapi, apabila mereka mempunyai saudara laki – laki maka kedudukannya berubah menjadi asabah bilgair ( saudara perempuan menjadi asabah karena ada saudara laki – laki ).

3.Hijab dan Mahjub

Hijab ( penghalang ), yaitu ahli waris yang lebih dekat dapat menghalangi ahli waris yang lebih jauh sehingga ahli waris yang lebih jauh tidak dapat menerima, atau bisa menerima, tetapi bagiannya menjadi berkurang.

Hijab dibagi menjadi dua, yaitu sebagai berikut:

1. Hijab hirma,yaitu ahli waris yang lebih dekat dapat menghalangi ahli waris yang lebih jauh sama sekali tidak menerima bagian. Contohnya, kakek terhalang oleh bapak, dan cucu terhalang oleh anak

2. Hijab nuqsan ( mengurangi ), yaitu ahli waris lebih dekat dapat menghalangi ahli waris yang lebih jauh sehingga ahli waris yang lebih jauh bagiannya berkurang Contoh, jika jenazah meninggalkan anaknya, suami mendapat 1/4, dan jika tidak meninggalkan anak mendapat 1/2

Mahjub ( terhalang ), ahli waris yang lebih jauh terhalang oleh ahli waris waris yang lebih dekat sehingga sama sekali tidak dapat menerima, atau menerima, tetapi bagiannya berkurang

4. Batalnya Hak Menerima Waris

Sekalipun berhak menerima waris yang seseorang meninggal dunia, tetapi hak itu dapat batal karena hal – hal berikut ini.

1. Tidak beragama islam. Hukum islam hanya untuk umat islam, maka seorang bapak yang tidak beragama islam tidak mewarisi harta anaknya yang beragama islam, demikian juga sebaliknya

2. Murtad dari agama islam. Sekalipun mulanya beragama islam, tetapi kemudian pindah agama lain, maka ia tidak berhak lagi mempusakai harta keluarganya yang beragama islam

3. Membunuh. Orang yang membunuh tidak berhak mendapat harta waris dari orang yang dibunuhnya sebagaimana sabda Rasulullah.,”Tidaklah si pembunuh mewarisi harta orang yang dibunuhnya,sedikitpun. “( HR.Ahli Hadits )

4. Menjadi hamba. Seseorang yang menjadi hamba orang lain tidak berhak menerima harta waris dari keluarganya karena harta harta tersebut akan jatuh pula ketangan orang yang menjadi majikannya ( lihat QS.An Nahl:75 )

D. Ketentuan Tentang Harta Sebelum Pembagian Warisan

Pada saat jenazah telah dimakamkan, sebelum dilaksanakan pembagian warisan, pihak keluarga atau ahli waris terlebih dulu harus menyelesaikan beberapa hal yang ada sangkut pautnya dengan harta peninggalan, yaitu sebagai berikut:

1. Zakat, apabila telah sampai saatnya untuk mengeluarkan zakat harta, maka harta peninggalan dikeluarkan untuk zakat mal terlebih dahulu atau zakat fitrah

2. Hutang, apabila si jenazah meninggalkan hutang, maka hutang itu harus dibayar lebih dulu

3. Biaya perawatan, yaitu pembelanjaan yang dikeluarkan untuk penyelenggaraan dan pengurusan jenazah seperti membeli kain kafan dan biaya penguburan hingga si jenazah selesai dimakamkan

4. Membayar wasiat, apabila sebelum meninggal ia berwasiat, maka harus dibayarkan lebih dulu, asalkan tidak melebihi⅓ harta peninggalan. Berwasiat tidak dibenarkan kepada ahli waris karena mereka telah mendapat bagian dari harta warisan yang akan ditinggalkannya. Lain halnya semua ahli waris setuju bahwa sebagian dari harta peninggalan itu boleh di wasiatkan kepada seseorang di antara mereka

5. Memenuhi nazar jenazah ketika masih hidup dan belum sempat dilaksanakan. Misalnya, nazar untuk mewakafkan sebidang tanahnya, dan nazar untuk ibadah haji.

Apabila semua hak yang tersebut di atas telah di selesaikan semuanya, maka harta warisan yang masih ada dapat dibagi – bagikan kepada ahli waris yang berhak menerimanya.

E. Perhitungan Dalam Pembagian Warisan

Jika seseorang meninggal dunia, kemudian ada ahli waris yang mendapat 1/6 bagian, dan seorang lagi mendapat 1/4 bagian, maka pertama – tama harus dicari KPK ( kelipatan persekutuan terkecil ) dari pembilang 6 dan 4, yaitu bilangan 12. Didalam ilmu faraid, KPK disebut asal masalah.

Asal masalah dalam ilmu faraid ada 7 macam, yaitu 2, 3, 4, 6, 8, 12, dan 24.

Contoh kasus 1.

Ada seseorang perempuan meninggal dunia, ahli warisnya adalah bapak, ibu, suami, dua anak laki-laki, dan satu anak perempuan. Harta peninggalannya sebanyak Rp 1.800.000. Berapakah bagian masing – masing ahli waris?

Bapak = 1/6 ( karena ada anak laki-laki )

Ibu = 1/6 ( karena ada anak )

Suami = 1/4 ( karena ada anak )

Anak = Asabah ( karena ada anak laki-laki dan perempuan )

Asal masalah (KPK) = 12

Bapak = 1/6 * 12 = 2

Ibu = 1/6 * 12 = 2

Suami = 1/4 * 12 = 3

Jumlah = 7

Sisa ( bagian anak ) = 12 – 7 = 5

Bagian bapak = 2/12*Rp 1.800.000 = Rp 300.000

Bagian ibu = 2/12*Rp 1.800.000 = Rp 300.000

Bagian suami = 3/12*Rp 1.800.000 = Rp 450.000

Bagian anak = 5/12*Rp 1.800.000 = Rp 750.000

Untuk anak laki-laki mendapat dua kali lipat bagian anak perempuan sehingga dua anak laki-laki mendapat empat bagian dan seorang anak perempuan mendapat satu bagian. Harga warisan sisanya dibagi lima(5).

Bagian seorang anak laki-laki =2/5 * Rp750.000 = Rp300.000

Bagian seorang anak perempuan =1/5 * Rp750.000 = Rp150.000

Didalam praktek pelaksanaan pembagian harta warisan, sering di jumpai kasus kelebihan atau kekurangan harta sehingga pembagian harta waris memerlukan metode perhitungan yang tepat.

Sebagaimana contoh 1, sebelum memulai pembagian harta warisan, lebih dulu harus ditetapkan angka asal masalah, yaitu mencari angka ( kelipatan persekutuan ) terkecil yang dapat dibagi oleh masing-masing angka penyebut dari bagian ahli waris guna memudahkan dalam operasional hitungan. Misalnya bagian ahli waris 1/2 dan 1/3, angka asal masalahnya ( KPK ) adalah 6 karena 6 dapat dibagi 2 dan 3 ( penyebutnya ). Bagian ahli waris 1/4, 2/3, 1/6, 1/4 angka asal masalahnya adalah 12 karena angka 12 dapat dibagi 2, 3, dan 6. Bagian ahli waris 1/8 dan 2/3, angka masalahnya 24 karena angka 24 dapat dibagi 8 dan 3. Demikian seterusnya.

Contoh kasus 2.

A. Seseorang meninggal dunia, mewarisi harta sebesar Rp 12.000.000. Ahli warisnya terdiri dari suami, anak perempuan, cucu perempuan dan saudara perempuan sekandung, masing-masing mendapat bagian 3-6-2-1. Pembagiannya adalah sebagai berikut:

_, Suami ( 1/4 ) = 3/12 * Rp 12.000.000 = Rp 3.000.000

_, Anak perempuan ( 1/2 ) = 6/12 * Rp 12.000.000 = Rp 6.000.000

_, Cucu perempuan ( 1/6 ) = 2/12 * Rp 12.000.000 = Rp 2.000.000

_, Saudara perempuan (1/2)= 1/12 * Rp 12.000.000 = Rp 1.000.000

B. Seseorang meninggal dunia meninggalkan harta warisan sebesar Rp 36.000.000 dan ahli waris terdiri dari ibu, suami, dan dua saudara seibu, masing-masing mendapat bagian 1, 3, 2, pembagiannya adalah P:

_, Ibu (1/6) = 1/6 * Rp 36.000.000 = Rp 6.000.000

_, Suami (1/2) = 3/6 * Rp 36.000.000 = Rp 18.000.000

_, 2 Saudara (1/3) = 2/6 * Rp 36.000.000 = Rp 12.000.000

C. Si pulan meninggal dunia meninggalkan harta warisan senilai Rp 14.400.000 dan meninggalkan ahli waris terdiri dari istri, cucu perempuan serta ibu masing-masing mendapat bagian 3, 12, 4, pembagian sebagai berikut:

_, Istri (1/8) = 3/24 * Rp 14.400.000 = Rp 1.800.000

_, Cucu perempuan (1/2) = 12/24 * Rp 14.400.000= Rp 7.200.000

_, Ibu (1/6) = 4/24 * Rp 14.400.000 = Rp 2.400.000

Keterangan sisa harta Rp 3.000.000 diberikan kepada baitul mal.

Hal-hal yang harus kita perhatikan sebelum menghitung pembagian hak waris adalah sebagai berikut:

1. Supaya diperhatikan susunan ahli waris, apakah ada yang terhalang ( mahjub ) atau tidak ( gairu mahjub )

2. Kita harus bisa membedakan atau memisahkan antara ahli waris zawil furud atau asabah. Jika ternyata ada asabah lebih dari 1 kelompok maka asabah yang urutannya lebih besar atau jauh supaya mengalah, dan turun derajatnya menjadi ahli waris zawil furud.

F. Hukum Adat Tentang Warisan Dalam Pandangan Hukum Islam

Pembagian harta warisan menurut hukum adat biasanya dilakukan atas dasar kekeluargaan dan kerukunan serta keadilan antara para ahli waris. Masalah pihak yang berhak memperoleh warisan, biasanya diutamakan mereka yang paling dekat dengan si jenazah, bahkan secara adat biasanya anak angkatpun memperoleh warisan karena kedekatannya itu.

Menurut hukum adat, harta peninggalan itu terdiri dari:

1. Harta peninggalan yang tidak dibagi( contohnya harta pusaka menurut adat Minang Kabau )

2. Harta benda yang dibagi, yaitu:

a. Harta yang diberikan orang tua pada waktu mereka masih hidup. Dalam hal ini ayah membagi-bagikan harta kekayaannya kepada anak – anaknya atas dasar persamaan hak.

b. Harta yang diwariskan sewaktu orang tua masih hidup, tetapi penyerahannya dilakukan setelah ayah atau ibu wafat.

Pembagian harta warisan secara adat di beberapa daerah bermacam-macam bentuknya sesuai dengan karakter daerahnya masing-masing. Contonya di Aceh, pekarangan rumah peninggalan harus diberikan kepada anak perempuan yang tertua, sedangkan di daerah Sumatra utara ( Batak ), pekarangan rumah harus diberikan kepada anak laki-laki tertua atau termuda, sedangkan benda-benda keramat untuk anak laki-laki dan benda-benda perhiasan untuk perempuan.

1. Hukum Adat Yang Sesuai Dengan Hukum Islam

Sebagaiman telah disebutkan diatas, bahwa hukum waris yang diundangkan oleh islam terdapat 2 macam kebaikan:

a. Islam mengikut sertakan kaum wanita sebagai ahli waris sebagaimana kaum pria

b. Islam membagi harta warisan kepada segenap ahliu waris secara demokratis dan adil.

Dalam pembagian harta, biasanya berpijak pada dasar pemikiran yang konkret, yakni memandang kepada wujud harta yang di tinggalkan sehingga harta peninggalan itu tidak diperhitungkan secara rinci sesuai aturan agama. Pembagian dilakukan menurut keadaan bendanya dengan pembagian yang dipandang wajar misalnya ada yang memperoleh rumah, sawah, mobil, dan gedung.

Menurut hukum adat, penbagian harta warisan dilakukan setelah dibayarkan hutang-hutang dan sangkut paut lainnya dari orang yang meninggal. Oleh karena itu, hukum adat tersebut diatas mempunyai kemiripan, dan ketentuannya yang di benarkan oleh hukum waris menurut ajaran agama islam.

2. Hukum Adat Yang Tidak Sesuai Dengan Ajaran Islam

Adapun hukum adat yang tidak sesuai dengan ajaran islan adalah apabila pembagiannya hanya berdasarkan nafsu atau ketidakadilan, seperti halnya hanya memiih-milih atau terpaksa memberikan warisan karena adanya ancaman dari pihak ahli waris. Salah satu contoh yang tidak sesuai dengan hukum islam, antara lain anak angkat mendapat warisan, anak perempuan lebih banyak mendapatkan harta warisan dari anak-anak laki-laki, atau pembagian harta warisan tanpa ada musyawarah ( mufakat ) lebih dulu.

G. Hikmah Mawaris

Beberapa hikmah yang dapat diambil dari pengaturan waris menurut islam antara lain sebagai berikut:

1. Dengan adanya ketentuan waris itu disamping akan membawa keteraturan dan ketertiban dalam hal harta benda, juga untuk memelihara harta benda dari satu generasi ke generasi lain.

2. Dapat menegakan nilai-nilai perikemanusiaan, kebersamaan, dan demokratis di antara manusia, khususnya dalam soal yang menyangkut harta benda.

3. Dengan mempelajari ilmu waris berarti seorang muslim telah ikut memelihara dan melaksakan ketentuan-ketentuan dari Allah swt. Yang terdapat dalam Al Qur’an.

4. Menghindarkan perpecahan antar keluarga yang disebabkan oleh pembagian harta warisan yang tidak adil. Mengalirkan harta peninggalan kepada yang lebih bermanfa’at agar lebih terjaminnya kesejahteraan keluarga secara merata.

5. Memelihara harta peninggalan dengan baik sehingga harta itu menjadi amal jariah bagi si jenazah.

6. Memperhatikan anak yatim karena dengan harta yang di tinggalkan oleh orang tuanya kehidupan anak – anak yang di tinggalkan itu akan lebih terjamin.

7. Dengan pembagian yang merata sesuai dengan syariat, maka masing-masing anggota keluarga akan merasakan suatu kepuasan sehingga dapat hidup dengan tentram.

8. Dengan mengetahui ilmu mawaris, maka setiap anggota keluarga akan memahami hak-hak dirinya dan hak-hak orang lain, sehingga tidak akan terjadi perebutan terhadap harta warisan tersebut.

Rangkuman

1. Mawaris adalah suatu cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari cara-cara pembagian harta warisan. Mawaris sering disebut ilmu Fara’id karena mempelajari pembagian-pembagian penerima yang sudah ditentukan sehingga ahli waris tidak boleh mengambil harta waris melebihi ketentuan.

2. Ahli waris zawil furud adalah para ahli waris yang bagian-bagian penerimaannya sudah ditentukan. Ahli waris asabah adalah para ahli waris yang bagiannya tidak ditentukan, tetapi menerima dan menghabiskan sisanya. Hijab atau penghalang adalah ahli waris yang lebih dekat dapat menghalangi ahli waris yang lebih jauh sehingga ahli waris yang lebih jauh tidak menerima atau bisa menerima, tetapi bagiannya menjadi berkurang. Mahjub atau Terhalang adalah ahli waris yang lebih jauh terhalang oleh ahli waris yang lebih dekat sehingga tidak dapat menerima atau menerima, tetapi berkurang bagiannya.

3. Sekalipun mempunyai hak menerima waris dari seseorang yang meninggal dunia, tetapi hak itu dapat batal karena tidak beragama islam, murtad dari agama islam, membunuh, atau menjadi hamba.

4. Pihak keluarga atau ahli waris terlebih dulu harus menyelesaikan beberapa hal yang ada sangkut pautnya dengan harta peninggalan, yaitu , zakat, hutang, biaya perawatan, membayar wasiat, dan memenuhi nazar jenazah ketika masih hidup dan belum sempat dilaksanakan.

Published in: on Oktober 25, 2010 at 2:19 am  Tinggalkan sebuah Komentar